Apa yang Dimaksud dengan Intrapreneurship?

Aurora March 29, 2025

Apa yang dimaksud dengan intrapreneurship? Bayangkan sebuah perusahaan besar, penuh dengan ide-ide cemerlang yang terpendam. Intrapreneurship adalah kunci untuk melepaskan potensi itu, memberdayakan karyawan untuk menjadi wirausahawan di dalam perusahaan mereka sendiri. Ini bukan sekadar inovasi, melainkan sebuah revolusi budaya, sebuah semangat untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berdampak positif, menggerakkan roda perusahaan menuju kesuksesan yang lebih gemilang.

Dengan intrapreneurship, karyawan tak hanya menjadi bagian dari mesin, tetapi juga menjadi penggerak utamanya, mengembangkan ide-ide brilian yang sebelumnya mungkin hanya menjadi angan-angan. Inilah kunci untuk meningkatkan daya saing, menciptakan produk dan layanan yang inovatif, serta mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar program, intrapreneurship adalah sebuah filosofi, sebuah komitmen untuk memberdayakan potensi setiap individu demi kemajuan bersama.

Intrapreneurship, secara sederhana, adalah penerapan prinsip-prinsip kewirausahaan di dalam sebuah organisasi yang sudah ada. Berbeda dengan entrepreneur yang membangun bisnis dari nol, intrapreneur bekerja di dalam perusahaan yang sudah mapan, mengembangkan ide-ide baru dan inovatif untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan profitabilitas. Mereka memiliki kebebasan untuk bereksperimen, mengambil risiko terukur, dan menciptakan perubahan yang signifikan. Keberhasilan intrapreneurship bergantung pada dukungan penuh dari manajemen, budaya perusahaan yang inklusif, dan sistem yang memungkinkan karyawan untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal.

Dengan begitu, perusahaan dapat memetik manfaat dari ide-ide segar dan meningkatkan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.

Definisi Intrapreneurship

Apa yang Dimaksud dengan Intrapreneurship?

Di era yang serba cepat dan kompetitif ini, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kunci keberlangsungan hidup sebuah perusahaan. Intrapreneurship, konsep yang menggabungkan semangat kewirausahaan dengan lingkungan korporat, semakin menjadi sorotan. Bayangkan, sebuah perusahaan besar yang mampu menelurkan ide-ide segar dan inovatif dari dalam, layaknya sebuah startup yang lincah dan adaptif. Itulah inti dari intrapreneurship: mengembangkan budaya inovasi dan kreativitas di dalam perusahaan.

Intrapreneurship, secara sederhana, adalah penerapan prinsip-prinsip kewirausahaan di dalam sebuah organisasi yang sudah ada. Para intrapreneur, sebagaimana pebisnis tradisional, memiliki visi, berani mengambil risiko, dan gigih mengejar tujuan. Namun, beda dengan entrepreneur yang membangun bisnis dari nol, intrapreneur bekerja di dalam struktur perusahaan yang telah mapan, memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menciptakan nilai tambah dan pertumbuhan.

Perbedaan Intrapreneurship dan Entrepreneurship

Meskipun keduanya mengedepankan inovasi dan kreativitas, intrapreneurship dan entrepreneurship memiliki perbedaan mendasar. Intrapreneur bekerja di bawah payung sebuah organisasi yang sudah ada, mendapatkan dukungan sumber daya, dan beroperasi di bawah aturan perusahaan. Sebaliknya, entrepreneur membangun bisnis mereka sendiri dari awal, menghadapi risiko finansial yang lebih besar, dan memiliki kebebasan penuh dalam pengambilan keputusan. Perbedaan ini juga berdampak pada skala risiko dan reward yang diterima.

Intrapreneurship, singkatnya, adalah semangat kewirausahaan di dalam perusahaan. Bayangkan inovasi dan kreativitas yang dikembangkan karyawan, seperti strategi pemasaran inovatif yang diimplementasikan oleh tim di balik aplikasi domino’s pizza indonesia , yang memungkinkan pesan antar lebih efisien. Keberhasilan aplikasi ini merupakan contoh nyata intrapreneurship yang berdampak positif pada bisnis.

Jadi, intrapreneurship bukan hanya tentang ide baru, melainkan juga tentang eksekusi dan dampak nyata bagi perusahaan.

KarakteristikIntrapreneurEntrepreneurPerbedaan
Sumber DayaMenggunakan sumber daya perusahaanMembangun dan mengelola sumber daya sendiriAkses terhadap sumber daya yang telah ada vs membangun dari nol
RisikoRisiko relatif lebih rendah, terlindungi oleh struktur perusahaanRisiko finansial dan operasional lebih tinggiTingkat risiko yang berbeda
KebebasanTerikat pada kebijakan dan prosedur perusahaanKebebasan penuh dalam pengambilan keputusanTingkat otonomi dan fleksibilitas
KeuntunganGaji, bonus, dan kesempatan promosiPotensi keuntungan yang tidak terbatasStruktur kompensasi yang berbeda

Contoh Perusahaan yang Sukses Menerapkan Intrapreneurship

Banyak perusahaan global telah membuktikan efektivitas intrapreneurship dalam mendorong inovasi dan pertumbuhan. Google, misalnya, dengan programnya yang mendorong karyawan untuk mengembangkan proyek-proyek sampingan (side projects), telah melahirkan berbagai produk dan layanan inovatif. Karyawan diberi waktu dan sumber daya untuk mengeksplorasi ide-ide baru, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang dinamis dan kreatif. Hal serupa juga dilakukan oleh perusahaan teknologi lainnya seperti 3M, yang terkenal dengan budaya inovasi dan pemberian kebebasan kepada karyawan untuk bereksperimen.

Intrapreneurship, singkatnya, adalah semangat kewirausahaan di dalam perusahaan. Bayangkan inovasi dan kreativitas yang diwujudkan bukan di luar, melainkan dari dalam organisasi. Ini seperti menciptakan startup baru, tapi di bawah payung perusahaan besar. Sebagai contoh, jika kita melihat potensi ekonomi yang luar biasa di negara terbesar di Asia Tenggara , kita bisa melihat bagaimana intrapreneurship bisa berperan penting dalam mengembangkan potensi tersebut.

Pengembangan produk dan layanan baru yang inovatif, dirancang dan dijalankan oleh karyawan yang bersemangat, merupakan inti dari intrapreneurship, membawa dampak positif bagi perusahaan dan masyarakat. Jadi, intrapreneurship bukan hanya sekadar ide, melainkan tindakan nyata untuk mendorong pertumbuhan dan perubahan positif.

Karakteristik Utama Seorang Intrapreneur

Seorang intrapreneur idealnya memiliki kombinasi keterampilan dan sifat kepemimpinan yang unik. Mereka bukan hanya inovatif dan kreatif, tetapi juga memiliki kemampuan manajemen proyek yang baik, mampu bekerja dalam tim, dan memiliki daya juang yang tinggi. Kemampuan untuk mengidentifikasi peluang, mengelola risiko, dan meyakinkan orang lain tentang visi mereka juga sangat penting. Kemampuan beradaptasi dan belajar terus menerus merupakan kunci untuk bertahan dalam lingkungan bisnis yang selalu berubah.

Manfaat Intrapreneurship bagi Perusahaan

Intrapreneurship, merupakan kunci untuk perusahaan yang ingin tetap relevan dan kompetitif di era yang serba cepat ini. Bukan sekadar tren, ini adalah strategi yang terbukti ampuh mendorong pertumbuhan, inovasi, dan peningkatan profitabilitas. Dengan memberdayakan karyawan untuk berpikir dan bertindak seperti wirausahawan di dalam perusahaan, perusahaan dapat menuai berbagai manfaat signifikan. Bayangkan sebuah perusahaan yang dipenuhi ide-ide segar dan energi positif yang berasal dari dalam – itulah dampak intrapreneurship.

Peningkatan Pertumbuhan dan Inovasi Perusahaan

Intrapreneurship menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas dan inovasi. Karyawan yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan pengembangan produk/layanan baru akan lebih termotivasi untuk menghasilkan ide-ide inovatif. Proses ini menghasilkan produk atau layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar, sekaligus membuka peluang bisnis baru dan memperluas jangkauan pasar perusahaan. Alih-alih hanya bergantung pada manajemen puncak, intrapreneurship mendistribusikan kemampuan inovatif ke seluruh lapisan perusahaan, menghasilkan lonjakan ide dan solusi yang lebih beragam dan efektif.

Intrapreneurship, sederhananya, adalah semangat kewirausahaan di dalam sebuah organisasi. Bayangkan seorang karyawan yang punya ide cemerlang untuk mengembangkan menu baru, misalnya kreasi sambal unik di sebuah rumah makan. Nah, jika ia berhasil mengusulkan dan mengembangkan ide tersebut, misalnya dengan membuka cabang baru yang fokus pada sambal, seperti yang diulas di rumah makan sambal lalap , itulah intrapreneurship dalam aksi.

Inilah yang membedakannya dari wirausaha konvensional; inovasi dan kreatifitas dijalankan di dalam sistem perusahaan yang sudah ada, menguntungkan baik individu maupun perusahaan. Jadi, intinya intrapreneurship adalah tentang berinovasi dan berkarya untuk kemajuan bersama.

Peningkatan Daya Saing Perusahaan

Di dunia bisnis yang kompetitif, inovasi dan kecepatan adaptasi adalah kunci keberhasilan. Intrapreneurship membekali perusahaan dengan kemampuan untuk responsif terhadap perubahan pasar dan tren konsumen. Dengan karyawan yang proaktif dan berinisiatif, perusahaan dapat lebih cepat mengembangkan produk dan layanan baru, memperbaiki proses bisnis yang ada, dan menyesuaikan strategi bisnis dengan cepat sesuai kebutuhan.

Hal ini memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan dibandingkan pesaing yang kurang adaptif.

Dampak Intrapreneurship terhadap Budaya Kerja dan Motivasi Karyawan

Memberdayakan karyawan melalui intrapreneurship membangun budaya kerja yang positif dan produktif. Karyawan merasa lebih dihargai, dipercaya, dan diberdayakan untuk berkontribusi secara signifikan. Hal ini meningkatkan kepuasan kerja, meningkatkan motivasi, dan mengurangi tingkat perputaran karyawan. Sebuah lingkungan kerja yang menghargai ide-ide baru dan memberikan kesempatan untuk berkembang akan menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

Intrapreneurship, inovasi dari dalam perusahaan, merupakan kunci daya saing di era modern. Bayangkan semangat kewirausahaan seperti yang dimiliki talal bin abdulaziz al saud , seorang figur yang dikenal dengan visi bisnisnya yang cemerlang, diterapkan dalam skala korporasi. Hal ini mendorong karyawan untuk berpikir kreatif, mengambil risiko terukur, dan mengembangkan ide-ide baru demi kemajuan perusahaan.

Dengan demikian, intrapreneurship tak hanya sekadar inovasi, tetapi juga sebuah budaya perusahaan yang dinamis dan berorientasi pada pertumbuhan. Intinya, intrapreneurship adalah kunci untuk menciptakan nilai tambah dan kejayaan bisnis di masa depan.

Intrapreneurship sebagai Solusi Tantangan Bisnis

Intrapreneurship dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi berbagai tantangan bisnis. Misalnya, perusahaan yang menghadapi penurunan penjualan dapat mendorong karyawan untuk mengembangkan strategi pemasaran baru atau produk/layanan baru yang lebih menarik bagi konsumen. Perusahaan yang menghadapi masalah efisiensi operasional dapat melibatkan karyawan dalam mencari cara untuk mengotomasi proses bisnis atau meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, intrapreneurship bukan hanya strategi pertumbuhan, tetapi juga alat untuk mengatasi masalah.

Studi Kasus Peningkatan Profitabilitas melalui Intrapreneurship, Apa yang dimaksud dengan intrapreneurship

Salah satu contohnya adalah 3M, perusahaan raksasa yang terkenal dengan budaya inovasinya. Kebijakan “15% time” di 3M, yang memungkinkan karyawan untuk mendedikasikan 15% waktu kerja mereka untuk mengejar proyek-proyek pribadi yang inovatif, telah menghasilkan banyak produk dan teknologi sukses, meningkatkan profitabilitas perusahaan secara signifikan. Contoh lainnya adalah Google, yang mendorong budaya eksperimen dan inovasi di seluruh divisi. Inisiatif-inisiatif internal seperti Google Ventures dan Google X telah menghasilkan produk dan layanan baru yang revolusioner, berkontribusi besar pada pertumbuhan dan kesuksesan Google. Keberhasilan ini membuktikan bahwa investasi dalam intrapreneurship merupakan investasi yang bernilai tinggi.

Proses dan Tahapan Implementasi Intrapreneurship

Membangun budaya intrapreneurship bukan sekadar tren, melainkan kunci keberhasilan perusahaan di era yang serba cepat dan kompetitif ini. Ini tentang memberdayakan karyawan untuk menjadi inovator internal, menghasilkan ide-ide cemerlang yang dapat meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan. Prosesnya, walau menantang, menjanjikan keuntungan besar jika dijalankan dengan strategi yang tepat. Berikut langkah-langkah kunci dalam membangun program intrapreneurship yang efektif, mengatasi hambatan umum, dan memaksimalkan potensi inovasi karyawan.

Intrapreneurship, inilah semangat wirausaha di dalam perusahaan. Bayangkan karyawan yang berpikir inovatif dan berani mengambil risiko, seperti mengembangkan model bisnis baru. Contohnya, kesuksesan shop & drive astra otoparts bisa jadi cerminan intrapreneurship yang berhasil. Mereka mampu menciptakan solusi ritel suku cadang otomotif yang efisien dan modern. Intinya, intrapreneurship mendorong kreativitas dan inisiatif karyawan untuk kemajuan perusahaan, sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan bagi individu dan organisasi.

Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi perjalanan membangun sesuatu yang baru dan berdampak.

Langkah-Langkah Utama Membangun Program Intrapreneurship yang Efektif

Membangun program intrapreneurship yang sukses membutuhkan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang terstruktur. Tahapannya tidak bisa instan, butuh komitmen dan konsistensi dari seluruh pihak. Perusahaan perlu menciptakan ekosistem yang mendukung kreativitas, inovasi, dan pengambilan risiko. Bukan hanya sekadar memberi ruang, tetapi juga memfasilitasi prosesnya secara sistematis. Kegagalan dalam satu tahap bisa berdampak domino ke tahap berikutnya.

  • Tahap Perencanaan: Menentukan tujuan, sasaran, dan target yang jelas untuk program intrapreneurship. Menetapkan kriteria penilaian ide, sumber daya yang dibutuhkan (anggaran, waktu, tim), serta sistem reward and recognition yang adil dan transparan.
  • Tahap Implementasi: Meluncurkan program secara resmi, mensosialisasikannya kepada seluruh karyawan, dan menyediakan pelatihan dan mentoring yang dibutuhkan. Membangun platform atau mekanisme untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengembangkan ide-ide inovatif. Penting untuk memastikan keterlibatan aktif dari manajemen puncak.
  • Tahap Pengembangan: Memberikan dukungan penuh terhadap ide-ide terpilih, termasuk menyediakan sumber daya dan mentor yang dibutuhkan. Memastikan adanya proses monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan untuk mengukur kemajuan dan dampak program.
  • Tahap Implementasi dan Peluncuran: Setelah ide-ide disempurnakan, tahap ini fokus pada implementasi dan peluncuran solusi inovatif ke pasar atau dalam operasional perusahaan. Monitoring pasca-peluncuran sangat penting untuk evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Peran Manajemen dalam Mendukung Intrapreneurship: Apa Yang Dimaksud Dengan Intrapreneurship

Intrapreneurship, semangat kewirausahaan di dalam perusahaan, bukan sekadar tren, melainkan kunci keberhasilan di era persaingan yang semakin ketat. Suksesnya intrapreneurship tak lepas dari peran krusial manajemen. Manajemen yang suportif akan melahirkan inovasi-inovasi cemerlang dan mendorong pertumbuhan bisnis secara signifikan. Bayangkan, ide-ide brilian karyawan yang terpendam, kini bisa menjadi kenyataan berkat dukungan manajemen yang tepat. Berikut ini uraian detail bagaimana manajemen memainkan peran vital dalam memicu dan mengembangkan intrapreneurship.

Lingkungan Kondusif untuk Intrapreneurship

Membangun lingkungan yang kondusif bagi intrapreneurship memerlukan komitmen dan strategi yang terukur. Bukan hanya sekedar memberi ruang, tetapi menciptakan ekosistem di mana karyawan merasa aman, termotivasi, dan dihargai untuk mengeksplorasi ide-ide baru. Ini meliputi kebijakan yang fleksibel, akses mudah ke sumber daya, dan budaya perusahaan yang menghargai kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Perusahaan yang sukses dalam mengelola intrapreneurship biasanya memiliki sistem yang terbuka terhadap umpan balik dan kritik, menciptakan budaya “psikologis aman” sehingga karyawan merasa nyaman untuk mengambil risiko dan berbagi ide tanpa takut dihukum.

Peran Pemimpin dalam Membina Intrapreneur

Pemimpin berperan sebagai mentor, fasilitator, dan pendukung utama bagi intrapreneur. Kepemimpinan yang transformasional, bukan transaksional, sangat dibutuhkan. Pemimpin bukan hanya memberikan arahan, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi karyawan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Mereka harus mampu mengidentifikasi potensi intrapreneur, memberikan bimbingan, dan membantu mereka mengatasi hambatan yang mungkin dihadapi. Contohnya, pemimpin dapat menyediakan mentoring individual, menghubungkan intrapreneur dengan mentor eksternal, atau menyediakan akses ke jaringan profesional yang luas.

Penilaian dan Seleksi Ide Intrapreneurship

Proses penilaian dan seleksi ide intrapreneurship harus sistematis dan objektif. Hal ini untuk memastikan bahwa ide-ide yang dipilih memiliki potensi yang tinggi untuk sukses dan sejalan dengan strategi bisnis perusahaan. Berikut pedoman yang dapat digunakan:

  • Kelayakan Pasar: Apakah ada permintaan pasar yang cukup untuk produk atau jasa yang diusulkan?
  • Keunggulan Kompetitif: Apa keunggulan kompetitif dari ide tersebut dibandingkan dengan produk atau jasa yang sudah ada di pasar?
  • Kelayakan Finansial: Apakah ide tersebut ekonomis dan memberikan return on investment (ROI) yang memadai?
  • Risiko dan Tantangan: Apa risiko dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasi ide tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya?
  • Keselarasan Strategi: Apakah ide tersebut selaras dengan strategi bisnis perusahaan jangka panjang?

Program Pelatihan dan Pengembangan

Investasi dalam pelatihan dan pengembangan sangat penting untuk membekali karyawan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi intrapreneur yang sukses. Program pelatihan ini dapat mencakup berbagai aspek, seperti pengembangan ide bisnis, manajemen proyek, pemasaran, dan keuangan. Selain itu, pelatihan tentang berpikir desain (design thinking), manajemen risiko, dan kepemimpinan juga sangat penting. Program pelatihan yang efektif harus interaktif, praktis, dan berorientasi pada hasil.

Reward dan Pengakuan bagi Intrapreneur

Memberikan reward dan pengakuan yang tepat bagi intrapreneur yang berhasil sangat penting untuk memotivasi karyawan lain dan mendorong budaya intrapreneurship. Reward tidak harus selalu berupa finansial, tetapi juga dapat berupa penghargaan, promosi, kesempatan pengembangan karir, atau kesempatan untuk mempresentasikan ide mereka kepada manajemen puncak. Pengakuan atas kontribusi mereka juga penting untuk meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi mereka.

Contohnya, perusahaan dapat menyelenggarakan acara penghargaan khusus untuk intrapreneur yang berhasil, atau memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dengan karyawan lain.

Contoh Kasus Intrapreneurship di Berbagai Industri

Apa yang dimaksud dengan intrapreneurship

Intrapreneurship, semangat kewirausahaan di dalam perusahaan, bukan sekadar tren, melainkan kunci keberhasilan di era disrupsi. Membudayakan inovasi dari dalam, perusahaan mampu beradaptasi lebih cepat, menciptakan produk dan layanan baru, serta mempertahankan daya saing. Dari raksasa teknologi hingga perusahaan manufaktur, intrapreneurship telah terbukti meningkatkan profitabilitas dan menciptakan budaya kerja yang dinamis. Mari kita telusuri beberapa contoh sukses dan tantangannya.

Penerapan intrapreneurship memerlukan strategi yang tepat, disesuaikan dengan budaya perusahaan dan industri yang digeluti. Keberhasilannya pun bergantung pada faktor-faktor kunci, seperti dukungan manajemen, kebebasan bereksperimen, dan sistem reward yang adil. Namun, perjalanan menuju kesuksesan intrapreneurship tak selalu mulus. Banyak perusahaan yang mengalami kegagalan, menunjukkan pentingnya perencanaan matang dan komitmen berkelanjutan.

Studi Kasus Intrapreneurship yang Sukses

Berikut beberapa contoh implementasi intrapreneurship yang berhasil di berbagai sektor industri. Perbedaan strategi dan pendekatan yang diterapkan menunjukkan fleksibilitas konsep ini dalam beradaptasi dengan berbagai konteks bisnis. Analisis terhadap faktor-faktor kunci keberhasilan akan memberikan gambaran lebih komprehensif tentang bagaimana perusahaan mampu meraup keuntungan dari ide-ide inovatif karyawannya.

IndustriPerusahaanStrategiHasil
TeknologiGoogle (dengan program 20% time)Memberikan karyawan waktu 20% untuk mengejar proyek pribadi yang relevan dengan bisnis perusahaan. Dukungan penuh dari manajemen dan infrastruktur yang memadai.Lahirnya produk-produk inovatif seperti Gmail dan Google News. Peningkatan produktivitas dan kreativitas karyawan.
Manufaktur3M (dengan budaya inovasi yang kuat)Memberikan kebebasan kepada karyawan untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan mengalokasikan sumber daya untuk proyek-proyek yang menjanjikan. Budaya perusahaan yang mendorong eksperimen dan toleransi terhadap kegagalan.Pengembangan produk-produk inovatif yang mendunia, seperti Post-it notes. Peningkatan efisiensi dan daya saing perusahaan.
Jasa Keuangan(Contoh hipotetis: Perusahaan fintech yang mendorong pengembangan produk baru oleh tim internal)Membentuk tim khusus yang diberi wewenang penuh untuk mengembangkan produk dan layanan keuangan digital baru. Penggunaan metodologi agile dan lean startup untuk iterasi cepat.Peluncuran produk keuangan digital baru yang sukses di pasar, peningkatan pangsa pasar, dan peningkatan pendapatan.

Contoh Kasus Intrapreneurship yang Gagal

Penerapan intrapreneurship di perusahaan X, yang bergerak di bidang ritel, gagal karena kurangnya dukungan manajemen. Meskipun karyawan memiliki ide-ide inovatif, mereka tidak mendapatkan sumber daya dan wewenang yang cukup untuk mengembangkannya. Kurangnya komunikasi dan koordinasi antar departemen juga menjadi hambatan. Akibatnya, ide-ide tersebut tidak terwujud dan perusahaan kehilangan kesempatan untuk berinovasi.

Di perusahaan Y, sebuah perusahaan manufaktur, program intrapreneurship gagal karena kurangnya sistem reward yang efektif. Karyawan yang berpartisipasi dalam program ini tidak mendapatkan pengakuan atau insentif yang memadai atas kontribusinya. Hal ini menyebabkan demotivasi dan rendahnya partisipasi karyawan dalam program tersebut. Akibatnya, program ini tidak menghasilkan inovasi yang signifikan.

Artikel Terkait