Bagaimana Cara Menentukan Laba Usaha?

Aurora October 6, 2024

Bagaimana cara menentukan laba usaha? Pertanyaan ini krusial bagi setiap pelaku bisnis, dari warung kecil hingga perusahaan multinasional. Memahami laba usaha bukan sekadar menghitung angka, melainkan kunci untuk mengukur kesehatan finansial, menentukan strategi bisnis yang tepat, dan memastikan keberlanjutan usaha. Laba usaha, sebuah indikator vital yang mencerminkan kinerja operasional perusahaan, memberikan gambaran jelas tentang efisiensi dan profitabilitas bisnis Anda.

Dengan memahami cara menghitung dan menganalisisnya, Anda dapat mengambil keputusan yang tepat untuk memaksimalkan keuntungan dan meraih kesuksesan bisnis yang berkelanjutan. Mari kita telusuri seluk-beluk laba usaha dan bagaimana cara menentukannya secara efektif.

Menentukan laba usaha melibatkan pemahaman mendalam tentang pendapatan dan pengeluaran bisnis. Pendapatan merupakan jumlah total uang yang masuk dari penjualan produk atau jasa, sementara pengeluaran mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis, termasuk biaya produksi, operasional, dan administrasi. Perbedaan antara pendapatan dan pengeluaran inilah yang menentukan besarnya laba usaha. Dengan memahami komponen-komponen ini dan bagaimana mereka saling berinteraksi, Anda dapat membuat perencanaan keuangan yang lebih akurat dan mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat.

Kemampuan menganalisis laba usaha juga memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas.

Pengertian Laba Usaha

Bagaimana Cara Menentukan Laba Usaha?

Memahami laba usaha adalah kunci untuk mengukur kesehatan finansial bisnis, baik skala kecil maupun besar. Laba usaha, berbeda dengan laba kotor atau laba bersih, memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang profitabilitas inti operasional perusahaan. Menentukannya dengan tepat akan membantu Anda mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas dan terarah, mulai dari strategi pemasaran hingga pengelolaan biaya.

Menentukan laba usaha sederhana kok! Kurangi total pendapatan dengan seluruh biaya operasional, hasilnya adalah laba usaha. Nah, untuk memaksimalkan laba, pertimbangkan strategi penjualan yang tepat, misalnya dengan menjual produk jualan online yang mudah laku yang sesuai tren pasar. Dengan begitu, omzet meningkat dan perhitungan laba usaha pun akan lebih menguntungkan.

Intinya, efisiensi dan strategi penjualan yang tepat akan sangat berpengaruh pada besarnya laba usaha yang didapat.

Secara sederhana, laba usaha merupakan selisih antara pendapatan usaha dan beban usaha. Pendapatan usaha mencakup semua pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas operasional utama bisnis, sementara beban usaha mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk mendukung aktivitas operasional tersebut. Dengan kata lain, laba usaha mencerminkan keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas inti bisnis sebelum memperhitungkan biaya-biaya di luar operasional, seperti pajak dan bunga.

Perhitungan Laba Usaha

Mari kita ilustrasikan dengan contoh sederhana. Misalnya, sebuah toko kue “Sweet Success” memiliki pendapatan penjualan kue sebesar Rp 100.000.000 dalam satu bulan. Biaya operasional yang dikeluarkan meliputi bahan baku Rp 30.000.000, gaji karyawan Rp 20.000.000, sewa tempat Rp 10.000.000, dan utilitas Rp 5.000.000. Total beban usaha adalah Rp 65.000.000. Maka, laba usaha Sweet Success adalah Rp 100.000.000 – Rp 65.000.000 = Rp 35.000.000.

Menghitung laba usaha sederhana kok, cukup kurangi total pendapatan dengan biaya operasional. Nah, sebelum fokus ke angka-angka bisnis, mungkin Anda perlu waktu sejenak untuk mengukur kemampuan kognitif si kecil, misalnya dengan mengikuti tes iq anak usia 12 tahun jika punya anak seusia itu. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, kembali ke perhitungan laba usaha. Ingat, akurasi data sangat penting untuk mendapatkan hasil yang valid dan membantu pengambilan keputusan bisnis yang tepat.

Dengan perencanaan yang matang, menentukan laba usaha bukan lagi hal yang rumit.

Perbandingan Laba Usaha dengan Jenis Laba Lainnya

Laba usaha berbeda dengan laba kotor dan laba bersih. Memahami perbedaannya penting untuk analisis keuangan yang komprehensif. Laba kotor hanya memperhitungkan harga pokok penjualan (HPP), sementara laba usaha mencakup semua beban operasional. Laba bersih, di sisi lain, merupakan laba setelah dikurangi pajak dan bunga. Dengan demikian, laba usaha memberikan gambaran yang lebih detail tentang kinerja operasional inti bisnis sebelum dipengaruhi faktor-faktor eksternal.

Jenis LabaRumusPenjelasanContoh (Sweet Success)
Laba KotorPendapatan – Harga Pokok Penjualan (HPP)Keuntungan sebelum memperhitungkan beban operasional lainnya.Rp 100.000.000 – Rp 30.000.000 = Rp 70.000.000
Laba UsahaPendapatan – Beban UsahaKeuntungan setelah memperhitungkan semua beban operasional.Rp 100.000.000 – Rp 65.000.000 = Rp 35.000.000
Laba BersihLaba Usaha – Beban Non-Operasional – PajakKeuntungan akhir setelah memperhitungkan semua beban dan pajak.(Asumsi beban non-operasional Rp 5.000.000 dan pajak 20% dari laba usaha) Rp 35.000.000 – Rp 5.000.000 – (Rp 30.000.000 x 20%) = Rp 23.000.000

Ilustrasi Perhitungan Laba Usaha

Bayangkan sebuah diagram sederhana. Di puncak diagram terdapat pendapatan usaha, yang merupakan total pendapatan dari penjualan produk atau jasa. Dari pendapatan ini, kita kurangi semua beban usaha, seperti biaya bahan baku, gaji, sewa, dan utilitas. Selisih antara pendapatan dan beban usaha inilah yang disebut laba usaha. Diagram ini menunjukkan secara visual bagaimana laba usaha merupakan hasil bersih dari aktivitas operasional utama bisnis.

Komponen yang Mempengaruhi Laba Usaha

Bagaimana cara menentukan laba usaha

Memahami laba usaha adalah kunci keberhasilan bisnis. Laba usaha, selain menjadi indikator kinerja keuangan, juga menjadi patokan untuk strategi bisnis selanjutnya. Menentukannya tak cukup hanya dengan melihat angka pendapatan. Kita perlu menyelami komponen-komponen yang secara langsung memengaruhi besar kecilnya laba usaha. Mari kita bongkar satu per satu elemen kunci yang membentuk gambaran utuh profitabilitas bisnis Anda.

Komponen Pendapatan dalam Perhitungan Laba Usaha

Pendapatan yang dihitung dalam laba usaha adalah pendapatan utama dari aktivitas bisnis inti. Ini bukan sekadar total uang masuk, melainkan pendapatan bersih setelah dikurangi potongan-potongan tertentu. Bayangkan Anda seorang pengusaha kuliner, pendapatan Anda bukan hanya uang yang masuk dari penjualan makanan, tetapi setelah dikurangi diskon, retur penjualan, dan potongan lainnya. Kejernihan dalam mencatat pendapatan ini sangat krusial untuk akurasi perhitungan laba usaha.

Komponen Biaya yang Mengurangi Pendapatan

Setelah mengetahui komponen pendapatan, kita perlu mencermati biaya-biaya yang secara langsung berkaitan dengan proses produksi atau penyediaan barang/jasa. Ini adalah kunci untuk melihat seberapa efisien bisnis kita beroperasi. Biaya ini akan “mengikis” pendapatan, sehingga pemahaman yang tepat tentang jenis dan besarnya biaya sangat penting.

Menentukan laba usaha sederhana kok, cukup kurangi total pendapatan dengan total biaya. Ingat, biaya operasional yang termasuk di sini beragam, dari sewa hingga gaji karyawan. Bayangkan sekelas fore coffee head office pasti punya perhitungan yang rumit, ya? Mereka pasti punya tim keuangan yang mengelola data tersebut dengan teliti.

Kembali ke kita, setelah mendapatkan angka laba usaha, kita bisa menganalisis kinerja bisnis dan membuat strategi yang lebih baik untuk meningkatkan profitabilitas. Perlu ketelitian dan pemahaman yang baik tentang seluruh aspek keuangan perusahaan.

  • Harga Pokok Penjualan (HPP): Biaya langsung yang terkait dengan produksi barang yang dijual, termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
  • Biaya Operasional: Biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan operasional bisnis sehari-hari, seperti gaji karyawan, sewa tempat, utilitas, dan pemasaran.

Dampak Perubahan Harga Pokok Penjualan terhadap Laba Usaha

Harga pokok penjualan (HPP) memiliki hubungan yang sangat erat dengan laba usaha. Kenaikan HPP akan langsung mengurangi laba usaha, sementara penurunan HPP akan meningkatkannya. Misalnya, kenaikan harga bahan baku akan meningkatkan HPP, sehingga laba usaha berkurang. Sebaliknya, efisiensi dalam proses produksi yang menurunkan biaya bahan baku akan meningkatkan laba usaha. Perusahaan perlu melakukan manajemen biaya yang efektif untuk mengontrol HPP dan menjaga profitabilitas.

Pengaruh Biaya Operasional terhadap Laba Usaha

Biaya operasional juga berperan besar dalam menentukan laba usaha. Pengendalian biaya operasional yang baik menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas. Jika biaya operasional membengkak, misalnya karena peningkatan biaya pemasaran atau gaji karyawan, maka laba usaha akan tertekan. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan efisiensi operasional dan mencari cara untuk mengoptimalkan pengeluaran.

Menentukan laba usaha sederhana kok! Hitung pendapatan dikurangi biaya operasional, begitu rumusnya. Bayangkan misalnya, proyek properti besar seperti Inul Vizta Kota Tangerang Selatan Banten , pasti punya perhitungan laba usaha yang kompleks. Mereka harus memperhitungkan semua biaya, mulai dari pembangunan hingga pemasaran. Nah, setelah memahami gambaran besar itu, kembali ke rumus dasar: keuntungan bersih dicapai dengan mengurangi seluruh pengeluaran dari total pendapatan.

Jadi, fokus pada angka-angka yang relevan untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Perubahan Volume Penjualan dan Pengaruhnya terhadap Laba Usaha

Volume penjualan memiliki pengaruh signifikan terhadap laba usaha. Semakin tinggi volume penjualan, maka semakin besar potensi laba usaha, asalkan biaya tetap terkendali. Sebaliknya, penurunan volume penjualan akan mengurangi laba usaha. Mari kita lihat contoh sederhana:

Volume Penjualan (unit)Pendapatan (Rp)HPP (Rp)Biaya Operasional (Rp)Laba Usaha (Rp)
10010.000.0004.000.0003.000.0003.000.000
20020.000.0008.000.0004.000.0008.000.000

Contoh di atas mengasumsikan HPP dan biaya operasional berubah secara proporsional terhadap volume penjualan. Namun, dalam realita, biaya operasional seringkali tidak berubah secara proporsional (misalnya biaya sewa tetap). Perusahaan harus mampu meningkatkan volume penjualan sambil mengelola biaya secara efisien untuk memaksimalkan laba usaha.

Cara Menghitung Laba Usaha

Menentukan laba usaha adalah kunci keberhasilan bisnis, baik skala kecil maupun besar. Memahami cara menghitungnya dengan tepat akan membantu Anda mengukur performa bisnis, mengambil keputusan strategis, dan merencanakan langkah selanjutnya. Dengan pemahaman yang baik, Anda dapat mengoptimalkan profitabilitas dan memastikan keberlangsungan usaha Anda. Mari kita selami langkah-langkah praktisnya.

Langkah-langkah Perhitungan Laba Usaha Secara Sistematis

Menghitung laba usaha tak sesulit yang dibayangkan. Dengan mengikuti langkah-langkah sistematis berikut, Anda akan mendapatkan gambaran jelas tentang keuntungan yang diraih bisnis Anda. Ketelitian dan data yang akurat menjadi kunci utama dalam proses ini.

  1. Kumpulkan seluruh data pendapatan selama periode tertentu (misalnya, bulanan atau tahunan).
  2. Tentukan dan catat semua biaya operasional yang dikeluarkan selama periode yang sama. Ini termasuk biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa, utilitas, pemasaran, dan lain-lain.
  3. Kurangi total biaya operasional dari total pendapatan. Hasilnya adalah laba usaha.

Contoh Perhitungan Laba Usaha Bisnis Ritel

Bayangkan sebuah toko ritel pakaian yang memiliki pendapatan Rp 100.000.000 dalam satu bulan. Biaya operasionalnya meliputi: pembelian barang dagang Rp 50.000.000, gaji karyawan Rp 15.000.000, sewa Rp 5.000.000, utilitas Rp 3.000.000, dan biaya pemasaran Rp 2.000.000. Total biaya operasional adalah Rp 75.000.000. Maka, laba usahanya adalah Rp 100.000.000 – Rp 75.000.000 = Rp 25.000.000.

Menentukan laba usaha sederhana kok! Hitung pendapatan dikurangi seluruh biaya operasional. Nah, untuk memahami lebih dalam, perlu diketahui dulu jenis perusahaan yang kita analisis. Misalnya, jika kita menganalisis sebuah rumah sakit, pertanyaannya adalah rumah sakit termasuk perusahaan apa ? Karena itu mempengaruhi metode perhitungannya. Setelah mengetahui klasifikasinya, maka perhitungan laba usaha akan lebih akurat, mempertimbangkan semua aspek keuangan yang relevan seperti biaya tenaga medis, obat-obatan, dan lain-lain.

Dengan demikian, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas rumah sakit tersebut.

Rumus Perhitungan Laba Usaha

Rumus perhitungan laba usaha sangat sederhana dan mudah dipahami. Kejelasan rumus ini memungkinkan Anda untuk dengan cepat menghitung laba usaha bisnis Anda.

Laba Usaha = Total Pendapatan – Total Biaya Operasional

Contoh Perhitungan Laba Usaha Bisnis Jasa

Sebuah bisnis jasa konsultan memiliki pendapatan Rp 80.000.000 dalam satu kuartal. Biaya operasionalnya meliputi gaji konsultan Rp 40.000.000, biaya operasional kantor Rp 10.000.000, dan biaya pemasaran Rp 5.000.000. Total biaya operasional adalah Rp 55.000.000. Dengan demikian, laba usahanya adalah Rp 80.000.000 – Rp 55.000.000 = Rp 25.000.000.

Penjelasan Lebih Lanjut Mengenai Komponen Biaya Operasional

Memahami detail komponen biaya operasional sangat krusial untuk akurasi perhitungan laba usaha. Pengelompokan biaya yang terstruktur akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang efisiensi operasional bisnis Anda. Berikut beberapa contoh kategori biaya operasional yang perlu diperhatikan:

Kategori BiayaContoh
Biaya Bahan BakuBahan baku produksi, bahan material
Gaji dan UpahGaji karyawan, bonus, tunjangan
Biaya SewaSewa kantor, gudang, dan tempat usaha lainnya
Biaya UtilitasListrik, air, telepon, internet
Biaya PemasaranIklan, promosi, event
Biaya AdministrasiPerlengkapan kantor, biaya perjalanan dinas

Analisis Laba Usaha: Bagaimana Cara Menentukan Laba Usaha

Memahami laba usaha perusahaan ibarat membaca peta menuju kesuksesan finansial. Angka-angka yang tertera tak sekadar angka, melainkan cerminan strategi, efisiensi, dan daya saing bisnis. Analisis laba usaha menjadi kunci untuk mengungkap potensi pertumbuhan dan mengidentifikasi area yang perlu perbaikan. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa memetakan langkah strategis untuk meraih profitabilitas yang optimal dan berkelanjutan.

Analisis laba usaha melibatkan penguraian faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan atau penurunan keuntungan. Proses ini tak hanya sekadar menghitung selisih pendapatan dan biaya, tetapi juga menggali lebih dalam untuk menemukan akar penyebab di balik setiap fluktuasi. Dengan demikian, kita dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencapai target laba yang diinginkan. Baik bagi bisnis rintisan maupun perusahaan mapan, analisis ini adalah kompas navigasi menuju profitabilitas yang lebih baik.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laba Usaha

Berbagai faktor eksternal dan internal dapat berdampak signifikan terhadap laba usaha. Faktor eksternal meliputi kondisi ekonomi makro, perubahan regulasi, dan persaingan pasar. Sementara itu, faktor internal meliputi efisiensi operasional, strategi pemasaran, dan manajemen biaya. Perubahan harga bahan baku, misalnya, dapat langsung memengaruhi margin keuntungan. Begitu pula dengan tren pasar yang berubah-ubah, yang membutuhkan adaptasi strategi bisnis yang cepat dan tepat.

Contoh Analisis Laba Usaha dengan Perbandingan Data Periode Sebelumnya

Misalnya, sebuah perusahaan makanan dan minuman mengalami penurunan laba usaha pada kuartal kedua tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Setelah dianalisis, ditemukan bahwa penurunan ini disebabkan oleh peningkatan harga bahan baku utama dan penurunan penjualan akibat kampanye pemasaran kompetitor. Dengan memahami penyebabnya, perusahaan dapat mengambil langkah strategis seperti mencari pemasok alternatif dengan harga lebih kompetitif atau meningkatkan strategi pemasarannya untuk menarik kembali pelanggan.

Tren Laba Usaha Tiga Tahun Terakhir

TahunPendapatan (Rp Juta)Beban (Rp Juta)Laba Usaha (Rp Juta)
20211000700300
20221200800400
20231500900600

Saran untuk Meningkatkan Laba Usaha, Bagaimana cara menentukan laba usaha

Meningkatkan laba usaha membutuhkan strategi yang terintegrasi. Fokus pada efisiensi operasional, inovasi produk, dan pengembangan pasar merupakan langkah krusial. Diversifikasi produk dan perluasan pasar juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada satu produk atau pasar tertentu. Penting untuk selalu memantau tren pasar dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Strategi Peningkatan Laba Usaha

Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan laba usaha antara lain: optimasi rantai pasok untuk menekan biaya produksi, inovasi produk untuk meningkatkan daya saing, perluasan pasar ke segmen baru, dan peningkatan efisiensi pemasaran melalui strategi digital marketing. Dengan menerapkan strategi yang tepat dan terukur, perusahaan dapat mencapai pertumbuhan laba usaha yang berkelanjutan. Hal ini membutuhkan analisis data yang cermat, perencanaan yang matang, dan adaptasi yang cepat terhadap perubahan pasar.

Interpretasi Laba Usaha

Bagaimana cara menentukan laba usaha

Laba usaha, jantung bisnis yang berdetak. Angka ini bukan sekadar angka di laporan keuangan, melainkan cerminan kesehatan dan daya tahan perusahaan. Memahami interpretasinya kunci untuk meraih kesuksesan, baik bagi bisnis rintisan yang masih merangkak, maupun korporasi raksasa yang sudah mapan. Mari kita bedah lebih dalam makna di balik angka-angka tersebut, dan bagaimana angka ini bisa menjadi penentu langkah strategis.

Arti Penting Laba Usaha bagi Keberlangsungan Bisnis

Laba usaha, yang merupakan pendapatan dikurangi biaya operasional, menjadi indikator vital kesehatan finansial suatu bisnis. Angka ini mencerminkan efisiensi operasional, strategi pemasaran, dan daya saing produk atau jasa yang ditawarkan. Laba usaha yang konsisten dan positif menandakan bisnis berjalan sehat, mampu menghasilkan keuntungan, dan berkelanjutan. Sebaliknya, laba usaha yang negatif menunjukkan adanya masalah fundamental yang perlu segera ditangani sebelum bisnis mengalami kerugian yang lebih besar dan bahkan gulung tikar.

Ini ibarat memeriksa suhu tubuh pasien; suhu yang normal menandakan kesehatan yang baik, sedangkan suhu tinggi atau rendah menandakan adanya masalah kesehatan yang perlu penanganan segera.

Contoh Interpretasi Laba Usaha Rendah dan Tinggi

Bayangkan dua perusahaan sejenis, misalnya restoran. Restoran A mencatat laba usaha Rp 50 juta per bulan, sementara Restoran B hanya Rp 10 juta. Restoran A menunjukkan kinerja yang lebih baik, menunjukkan efisiensi operasional dan strategi pemasaran yang lebih efektif. Kemungkinan besar, restoran A memiliki kontrol biaya yang lebih baik, menu yang lebih diminati, atau strategi promosi yang lebih tepat sasaran.

Sebaliknya, laba usaha Restoran B yang rendah bisa mengindikasikan adanya masalah, seperti harga jual yang terlalu rendah, biaya operasional yang tinggi, atau kurangnya minat konsumen. Perlu investigasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan mencari solusinya.

Penggunaan Laba Usaha untuk Pengambilan Keputusan Bisnis

Laba usaha menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan strategis. Misalnya, perusahaan dengan laba usaha tinggi dapat mengalokasikan dana untuk ekspansi bisnis, pengembangan produk baru, riset dan pengembangan, atau peningkatan infrastruktur. Sebaliknya, perusahaan dengan laba usaha rendah perlu melakukan evaluasi menyeluruh, mencari cara untuk memangkas biaya operasional, meningkatkan efisiensi, atau bahkan melakukan restrukturisasi bisnis.

  • Ekspansi Pasar: Laba usaha yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk membuka cabang baru atau memasuki pasar baru.
  • Investasi Teknologi: Dana dari laba usaha dapat digunakan untuk meningkatkan teknologi produksi atau sistem manajemen.
  • Pengembangan Produk: Laba usaha yang sehat mendukung pengembangan produk baru atau peningkatan kualitas produk eksisting.

Solusi Mengatasi Laba Usaha Negatif

Laba usaha negatif adalah sinyal bahaya yang membutuhkan respons cepat. Strategi untuk mengatasi hal ini beragam, tergantung akar permasalahannya. Bisa jadi, perusahaan perlu melakukan efisiensi biaya, seperti negosiasi harga bahan baku, mengurangi tenaga kerja yang tidak produktif, atau memperbaiki sistem manajemen. Selain itu, perusahaan mungkin perlu meninjau kembali strategi pemasaran, menawarkan produk atau jasa yang lebih kompetitif, atau menargetkan pasar yang lebih tepat.

Contohnya, sebuah startup mengalami laba usaha negatif karena strategi pemasaran yang salah sasaran. Dengan mengalihkan fokus pemasaran ke segmen yang tepat dan memperbaiki kualitas produk, perusahaan tersebut mampu membalikkan keadaan dan mencapai laba usaha positif.

Interpretasi Angka Laba Usaha dalam Berbagai Konteks Bisnis

Jenis BisnisInterpretasi Laba UsahaContoh
StartupLaba usaha yang masih rendah atau bahkan negatif masih dapat ditoleransi selama pertumbuhan bisnis masih signifikan.Startup teknologi yang fokus pada inovasi mungkin mengalami kerugian di awal, tetapi potensi pertumbuhannya tinggi.
Bisnis MatangLaba usaha yang stabil dan meningkat menunjukkan kinerja yang sehat dan berkelanjutan.Perusahaan manufaktur dengan laba usaha konsisten menandakan manajemen yang efektif dan produk yang kompetitif.
Bisnis MusimanLaba usaha akan fluktuatif tergantung musim. Perlu analisis tren sepanjang tahun untuk menilai kinerja sebenarnya.Bisnis pariwisata akan mengalami puncak laba usaha pada musim liburan dan penurunan di musim lainnya.

Artikel Terkait