Cara menulis surat perjanjian yang sah dan efektif ternyata lebih mudah daripada yang dibayangkan. Membuat kesepakatan tertulis memang krusial, baik untuk transaksi jual beli tanah, kerjasama bisnis, hingga hutang piutang. Surat perjanjian bukan sekadar lembaran kertas, melainkan bukti hukum yang melindungi hak dan kewajiban semua pihak. Menulisnya dengan tepat dan terstruktur akan mencegah potensi sengketa di kemudian hari.
Dengan memahami unsur-unsur penting, prosedur penulisan, dan jenis-jenis surat perjanjian yang ada, Anda dapat menciptakan dokumen yang kuat secara hukum dan melindungi kepentingan Anda. Mari kita selami seluk-beluknya!
Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah dalam menciptakan surat perjanjian yang komprehensif dan terhindar dari masalah hukum. Dari merumuskan isi perjanjian yang jelas dan terstruktur hingga memilih bahasa yang tepat dan formal, panduan ini akan memberikan pemahaman yang menyeluruh. Baik Anda seorang pengusaha, pemilik usaha kecil, atau individu yang membutuhkan surat perjanjian, informasi di sini akan sangat membantu.
Siapkan pena dan kertas, atau laptop Anda, dan mari kita mulai!
Unsur-unsur Penting dalam Surat Perjanjian
Surat perjanjian, sekilas terlihat sederhana, namun di balik lembaran kertas itu tersimpan kekuatan hukum yang mengikat. Sebuah perjanjian yang sah dan kuat bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan konstruksi hukum yang cermat. Ketiadaan satu unsur penting saja bisa berakibat fatal, bahkan membatalkan seluruh isi perjanjian. Oleh karena itu, memahami unsur-unsur penting dalam surat perjanjian mutlak diperlukan, baik bagi Anda yang awam maupun yang sudah terbiasa berurusan dengan dokumen hukum.
Membuat surat perjanjian yang kuat dan terhindar dari sengketa di kemudian hari memerlukan pemahaman yang mendalam tentang unsur-unsur esensial yang harus dipenuhi. Kesalahan kecil bisa berdampak besar, sehingga ketelitian dan pemahaman hukum yang tepat sangat krusial. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai elemen-elemen kunci yang membentuk sebuah perjanjian yang sah secara hukum.
Subjek dan Objek Perjanjian
Subjek perjanjian merujuk pada pihak-pihak yang terlibat, sementara objek perjanjian adalah hal yang menjadi pokok perjanjian. Keduanya harus jelas dan teridentifikasi dengan baik. Ketidakjelasan subjek atau objek dapat menimbulkan multitafsir dan berujung pada perselisihan. Dalam perjanjian yang tidak jelas subjek dan objeknya, penegakan hukum akan menjadi sangat sulit.
Menulis surat perjanjian yang efektif membutuhkan ketelitian, mulai dari poin-poin penting hingga tata bahasa yang tepat. Kejelasan poin-poin krusial sama pentingnya dengan presentasi proposal bisnis yang profesional. Ingat, sebuah perjanjian yang baik sekuat pondasi bisnis Anda. Untuk memahami struktur yang baik, lihatlah contoh penyusunannya dalam contoh proposal bisnis yang baik dan benar , karena prinsip kejelasan dan detailnya juga berlaku dalam menyusun surat perjanjian yang mengikat secara hukum.
Dengan demikian, Anda dapat memastikan setiap klausul tercantum dengan jelas dan terhindar dari kesalahpahaman di kemudian hari. Perhatikan detail, karena detail kecil dapat berdampak besar pada kesepakatan bisnis Anda.
- Subjek: Identitas pihak-pihak yang terlibat harus tercantum lengkap dan jelas, termasuk nama, alamat, dan nomor identitas. Ketidakjelasan identitas dapat menyebabkan kesulitan dalam proses penegakan hukum.
- Objek: Objek perjanjian harus spesifik dan terdefinisi dengan baik. Ambiguitas dalam objek dapat mengakibatkan perselisihan di kemudian hari. Misalnya, deskripsi tanah yang tidak detail dapat menimbulkan masalah.
Contoh dalam perjanjian jual beli tanah: “Pihak Pertama, [Nama Lengkap], beralamat di [Alamat Lengkap], berstatus sebagai pemilik sah tanah seluas [Luas Tanah] meter persegi, dengan alamat [Alamat Tanah], selanjutnya disebut sebagai “Penjual”; dan Pihak Kedua, [Nama Lengkap], beralamat di [Alamat Lengkap], selanjutnya disebut sebagai “Pembeli”. Objek perjanjian ini adalah jual beli tanah seluas [Luas Tanah] meter persegi tersebut.”
Menulis surat perjanjian yang efektif membutuhkan ketelitian dan pemahaman hukum dasar. Pastikan poin-poin penting tercantum jelas, termasuk kewajiban dan hak masing-masing pihak. Perlu diingat, spesialisasi dalam bidang hukum tertentu, misalnya, sangat membantu dalam merumuskan perjanjian yang kuat dan terhindar dari masalah hukum di kemudian hari. Untuk lebih memahami pentingnya keahlian khusus, silahkan baca artikel ini tentang apa yang dimaksud spesialisasi.
Dengan demikian, kejelasan dan ketepatan dalam menyusun surat perjanjian akan terjamin, menghindari potensi konflik di masa mendatang. Ingat, sebuah perjanjian yang baik adalah fondasi kerjasama yang kokoh.
Pasal-Pasal Perjanjian dan Kesepakatan, Cara menulis surat perjanjian
Pasal-pasal perjanjian memuat poin-poin kesepakatan yang telah disetujui bersama oleh kedua belah pihak. Setiap pasal harus dirumuskan dengan jelas, ringkas, dan tidak menimbulkan tafsir ganda. Kejelasan setiap pasal sangat penting untuk menghindari konflik di masa mendatang. Kesepakatan yang tidak tertulis atau ambigu dapat menjadi celah hukum.
- Kesepakatan: Kesepakatan harus tertuang secara eksplisit dan detail dalam setiap pasal. Hal ini mencakup kewajiban, hak, dan tanggung jawab masing-masing pihak.
- Jangka Waktu: Perjanjian idealnya mencantumkan jangka waktu pelaksanaan perjanjian. Hal ini memberikan kepastian hukum dan batas waktu penyelesaian kewajiban.
Contoh dalam perjanjian jual beli tanah: “Pembeli wajib melunasi harga jual tanah sebesar Rp [Harga Tanah] dalam jangka waktu [Jangka Waktu] sejak tanggal penandatanganan perjanjian ini. Penjual wajib menyerahkan sertifikat tanah kepada Pembeli setelah seluruh pembayaran lunas.”
Menulis surat perjanjian yang kuat membutuhkan ketelitian, mencakup poin-poin krusial agar terhindar dari masalah hukum di kemudian hari. Kemampuan ini penting, terutama saat Anda ingin memaksimalkan potensi bisnis. Membangun kerjasama yang solid, misalnya, membutuhkan perjanjian yang jelas. Nah, untuk mengembangkan bisnis tersebut, Anda perlu tahu bagaimana cara memanfaatkan peluang usaha yang ada.
Setelah menemukan peluang, kembali lagi ke pentingnya surat perjanjian yang terstruktur untuk mengamankan kesepakatan dan menciptakan kerangka kerja yang berkelanjutan bagi pertumbuhan usaha Anda. Dengan begitu, kesuksesan bisnis akan lebih terjamin.
Saksi dan Tanda Tangan
Kehadiran saksi dan tanda tangan dari kedua belah pihak merupakan bukti otentikasi perjanjian. Saksi yang independen dapat memberikan kredibilitas hukum pada perjanjian tersebut. Tanpa tanda tangan dan saksi yang sah, perjanjian dapat dianggap tidak sah dan sulit untuk ditegakkan secara hukum.
| Unsur Penting | Fungsi | Contoh Kalimat (Jual Beli Tanah) | Potensi Masalah Hukum jika Diabaikan |
|---|---|---|---|
| Subjek Perjanjian | Mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat | “Pihak Pertama: [Nama Penjual], beralamat di [Alamat Penjual]” | Perjanjian menjadi tidak sah karena tidak jelas siapa yang terlibat |
| Objek Perjanjian | Menentukan hal yang diperjanjikan | “Objek perjanjian ini adalah jual beli tanah seluas 100 m² di [Alamat Tanah]” | Perjanjian menjadi ambigu dan mudah disalahtafsirkan |
| Pasal-Pasal Perjanjian | Merinci kesepakatan dan kewajiban masing-masing pihak | “Pembeli wajib membayar lunas dalam waktu 30 hari setelah perjanjian ditandatangani” | Timbul sengketa karena ketidakjelasan kewajiban |
| Saksi dan Tanda Tangan | Memvalidasi kesepakatan dan mencegah pemalsuan | “[Nama Saksi 1] dan [Nama Saksi 2] sebagai saksi atas penandatanganan perjanjian ini” | Perjanjian sulit dibuktikan dan ditegakkan di pengadilan |
Prosedur Penulisan Surat Perjanjian: Cara Menulis Surat Perjanjian
Menyusun surat perjanjian yang efektif dan terhindar dari ambiguitas hukum adalah kunci keberhasilan kerjasama, baik dalam bisnis maupun personal. Ketelitian dan pemahaman yang mendalam terhadap poin-poin penting menjadi penentu kekuatan hukum dan keberlangsungan kesepakatan. Berikut uraian langkah-langkah sistematis dalam menulis surat perjanjian yang baik.
Menyusun surat perjanjian yang baik butuh ketelitian, mulai dari poin-poin kesepakatan hingga tanda tangan. Ingat, sebuah perjanjian yang kuat menjadi fondasi bisnis yang kokoh, terutama jika Anda berencana membuka toko online. Butuh nama yang tepat? Kunjungi inspirasi nama toko online untuk ide-ide menarik yang bisa mendukung usaha Anda. Setelah nama toko terpilih, kembali ke surat perjanjian, pastikan klausulnya jelas dan mudah dipahami agar terhindar dari masalah hukum di kemudian hari.
Perjanjian yang tertata rapi akan melindungi bisnis Anda, selayaknya benteng kokoh menghadapi persaingan pasar.
Langkah-Langkah Penulisan Surat Perjanjian
Menulis surat perjanjian bukan sekadar menuangkan kesepakatan ke dalam lembaran kertas. Ini adalah proses yang memerlukan ketelitian dan pemahaman hukum dasar. Setiap langkah krusial untuk memastikan perjanjian terbebas dari celah dan memiliki kekuatan hukum yang kuat. Perhatikan detail sekecil apapun, karena bisa berdampak besar di kemudian hari.
- Identifikasi Pihak yang Terlibat: Tentukan dengan jelas identitas semua pihak yang terlibat dalam perjanjian. Sertakan nama lengkap, alamat, nomor telepon, dan data identitas lainnya yang relevan. Kejelasan identitas ini penting untuk menghindari kesalahpahaman dan mempermudah proses hukum jika terjadi sengketa.
- Rumuskan Pokok Perjanjian: Tuliskan secara rinci dan jelas pokok-pokok perjanjian yang telah disepakati. Hindari penggunaan istilah yang ambigu atau dapat ditafsirkan ganda. Semakin detail, semakin kecil kemungkinan terjadinya konflik di masa mendatang.
- Tentukan Jangka Waktu Perjanjian: Tentukan jangka waktu perjanjian secara spesifik, mulai dari tanggal mulai hingga tanggal berakhir. Jika perjanjian bersifat jangka panjang, pertimbangkan untuk memasukkan klausul perpanjangan atau pemutusan perjanjian.
- Tentukan Hak dan Kewajiban Pihak: Uraikan secara detail hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat. Jelaskan konsekuensi jika salah satu pihak melanggar kewajibannya.
- Tentukan Mekanisme Penyelesaian Sengketa: Tentukan mekanisme penyelesaian sengketa yang akan digunakan jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak yang terlibat. Ini bisa berupa mediasi, arbitrase, atau jalur hukum.
- Pastikan Kesepakatan Tertulis: Semua kesepakatan harus dituangkan secara tertulis dan ditandatangani oleh semua pihak yang terlibat. Tanda tangan ini menjadi bukti sah dan mengikat secara hukum.
- Buat Salinan Perjanjian: Buatlah beberapa salinan perjanjian yang telah ditandatangani dan didistribusikan kepada semua pihak yang terlibat. Simpan salinan perjanjian dengan aman.
Jenis-jenis Surat Perjanjian
Surat perjanjian, sekilas terlihat formal dan kaku. Namun, di balik lembaran kertas bermeterai itu tersimpan kekuatan hukum yang mampu melindungi hak dan kewajiban setiap pihak yang terlibat. Baik itu transaksi bisnis besar atau kesepakatan sederhana antarteman, surat perjanjian menjadi benteng kokoh yang mencegah kesalahpahaman dan sengketa di kemudian hari. Memahami jenis-jenis surat perjanjian dan isi pentingnya adalah kunci agar kita terhindar dari potensi masalah hukum.
Jenis-jenis Surat Perjanjian yang Umum Digunakan
Beragam jenis surat perjanjian digunakan dalam kehidupan sehari-hari, masing-masing disesuaikan dengan konteks transaksi atau kesepakatan yang terjadi. Dari jual beli properti hingga kerjasama bisnis, pemahaman akan jenis-jenis surat perjanjian ini sangat krusial. Berikut beberapa contohnya yang sering kita temui.
Menulis surat perjanjian yang efektif butuh ketelitian, perhatikan poin-poin penting agar terhindar dari masalah hukum di kemudian hari. Bayangkan, sedetail apa Anda harus mencatat transaksi, seperti saat berbelanja oleh-oleh di pusat oleh oleh krisna , Anda perlu memastikan detail barang dan harga tercantum jelas. Kembali ke surat perjanjian, kejelasan poin-poin krusial, seperti kewajiban dan hak masing-masing pihak, adalah kunci utama agar perjanjian tersebut mengikat secara hukum dan terhindar dari sengketa.
Jadi, telitilah setiap kata dan pastikan semua pihak memahami isi perjanjian sebelum menandatanganinya.
- Surat Perjanjian Jual Beli: Dokumen ini mengatur transfer kepemilikan barang atau jasa dari penjual kepada pembeli. Poin penting yang harus ada di dalamnya adalah identitas lengkap kedua belah pihak, deskripsi detail barang atau jasa yang diperjualbelikan, harga, metode pembayaran, dan ketentuan lainnya seperti garansi atau pengembalian barang.
- Surat Perjanjian Sewa Menyewa: Digunakan untuk mengatur hubungan antara penyewa dan pemilik barang atau properti yang disewakan. Poin-poin penting mencakup identitas pihak-pihak yang terlibat, objek yang disewakan (dengan deskripsi detail), jangka waktu sewa, besarnya biaya sewa, cara pembayaran, dan ketentuan mengenai perawatan dan perbaikan.
- Surat Perjanjian Kerja Sama: Mengatur kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam suatu proyek atau usaha. Perjanjian ini harus memuat tujuan kerjasama, kontribusi masing-masing pihak, pembagian keuntungan atau kerugian, jangka waktu kerjasama, dan mekanisme penyelesaian sengketa.
- Surat Perjanjian Pinjam Meminjam: Mengatur transaksi pinjam meminjam uang atau barang. Perjanjian ini harus mencantumkan jumlah uang atau barang yang dipinjam, jangka waktu peminjaman, bunga (jika ada), dan cara pengembalian.
Perbandingan Surat Perjanjian Jual Beli dan Sewa Menyewa
Meskipun keduanya mengatur transaksi, surat perjanjian jual beli dan sewa menyewa memiliki perbedaan mendasar. Jual beli mentransfer kepemilikan secara permanen, sementara sewa menyewa hanya memberikan hak penggunaan sementara. Perbedaan ini tercermin dalam poin-poin penting yang diatur dalam masing-masing perjanjian. Jual beli fokus pada harga, metode pembayaran, dan spesifikasi barang, sementara sewa menyewa lebih menekankan pada jangka waktu sewa, biaya sewa, dan kondisi barang selama masa sewa.
Tabel Perbandingan Tiga Jenis Surat Perjanjian
Berikut tabel perbandingan tiga jenis surat perjanjian yang berbeda untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang perbedaannya.
| Jenis Perjanjian | Objek Perjanjian | Poin Penting | Contoh Skenario |
|---|---|---|---|
| Jual Beli | Barang/Jasa | Harga, Spesifikasi, Metode Pembayaran | Pembelian rumah, pembelian mobil bekas |
| Sewa Menyewa | Barang/Properti | Jangka Waktu, Biaya Sewa, Kondisi Barang | Sewa apartemen, sewa ruko |
| Kerja Sama | Proyek/Usaha | Tujuan, Kontribusi, Pembagian Keuntungan/Kerugian | Kerjasama bisnis kuliner, kerjasama pengembangan aplikasi |
Contoh Skenario Penggunaan Surat Perjanjian
Penerapan surat perjanjian sangat luas dan bervariasi, bergantung pada jenis transaksi atau kesepakatan yang terjadi. Pemahaman akan konteks penggunaan akan membantu kita membuat perjanjian yang efektif dan melindungi kepentingan masing-masing pihak.
- Surat Perjanjian Jual Beli: Pak Budi menjual mobilnya kepada Ani. Surat perjanjian jual beli akan mencantumkan detail mobil, harga jual, metode pembayaran, dan kondisi mobil saat dijual.
- Surat Perjanjian Sewa Menyewa: Dina menyewa apartemen milik Sari. Surat perjanjian sewa menyewa akan mencantumkan alamat apartemen, jangka waktu sewa, biaya sewa bulanan, dan ketentuan mengenai perawatan apartemen.
- Surat Perjanjian Kerja Sama: Dua perusahaan, PT. A dan PT. B, berkolaborasi untuk memproduksi produk baru. Surat perjanjian kerja sama akan mencantumkan kontribusi masing-masing perusahaan, pembagian keuntungan, dan strategi pemasaran.
Bahasa dan Gaya Penulisan yang Tepat
Surat perjanjian adalah dokumen legal yang krusial. Ketepatan bahasa dan gaya penulisan bukan sekadar soal estetika, melainkan kunci keabsahan dan kekuatan hukumnya. Kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar, bahkan berujung pada sengketa hukum yang panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana menyusun surat perjanjian dengan bahasa yang tepat, formal, dan bebas dari ambiguitas.
Kejelasan dan ketegasan bahasa dalam surat perjanjian akan melindungi semua pihak yang terlibat.
Menggunakan bahasa formal dan lugas dalam surat perjanjian sangat penting untuk menghindari misinterpretasi dan memastikan semua pihak memahami isi perjanjian dengan jelas. Bahasa yang tidak formal atau ambigu dapat menimbulkan keraguan dan membuka peluang terjadinya perselisihan di kemudian hari. Bayangkan betapa repotnya jika harus berurusan dengan pengadilan hanya karena kalimat yang kurang tepat dalam surat perjanjian. Ketegasan dan kejelasan adalah aset berharga dalam dunia hukum.
Contoh Kalimat yang Tepat dan Tidak Tepat
Perbedaan penggunaan kalimat yang tepat dan tidak tepat dalam surat perjanjian bisa sangat signifikan. Kalimat yang tepat harus ringkas, jelas, dan tidak menimbulkan interpretasi ganda. Berikut beberapa contohnya:
- Tidak Tepat: “Kita sepakat untuk…,” “Kira-kira harganya…”
- Tepat: “Pihak pertama dan kedua sepakat untuk…,” “Harga yang disepakati adalah…”
Perhatikan bagaimana kalimat yang tepat menggunakan bahasa formal dan menghindari kata-kata yang ambigu seperti “kita” atau “kira-kira”. Penggunaan istilah yang tepat dan baku memastikan tidak ada ruang untuk tafsir yang berbeda-beda.
Penggunaan Istilah Hukum yang Tepat
Surat perjanjian seringkali melibatkan istilah-istilah hukum yang spesifik. Penting untuk menggunakan istilah-istilah tersebut dengan tepat dan sesuai konteksnya. Salah menggunakan istilah hukum dapat melemahkan kekuatan hukum surat perjanjian, bahkan membuatnya tidak sah. Menggunakan kamus hukum atau berkonsultasi dengan ahli hukum dapat membantu memastikan penggunaan istilah yang tepat.
- Hindari penggunaan istilah-istilah yang bermakna ganda atau ambigu.
- Gunakan istilah hukum yang baku dan sudah diterima secara umum.
- Jika terdapat istilah yang kurang familiar, berikan definisi yang jelas dalam surat perjanjian.
Contoh Paragraf Formal dalam Surat Perjanjian Hutang Piutang
Berikut contoh paragraf yang menggunakan bahasa formal dan lugas dalam konteks surat perjanjian hutang piutang:
Pihak Pertama, [Nama Pemberi Pinjaman], memberikan pinjaman kepada Pihak Kedua, [Nama Peminjam], sejumlah uang sebesar Rp [Jumlah Pinjaman], yang akan digunakan untuk [Tujuan Pinjaman]. Pinjaman ini harus dikembalikan selambat-lambatnya pada tanggal [Tanggal Jatuh Tempo] beserta bunga sebesar [Persentase Bunga]% per tahun. Keterlambatan pembayaran akan dikenakan denda sebesar [Besar Denda] per hari keterlambatan. Segala perselisihan yang timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan secara musyawarah mufakat. Jika tidak tercapai kesepakatan, maka kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui jalur hukum yang berlaku.
Kesalahan Umum dan Solusinya
Beberapa kesalahan umum dalam penulisan surat perjanjian antara lain penggunaan bahasa yang tidak formal, ambiguitas dalam kalimat, dan kurangnya detail penting. Kesalahan-kesalahan ini dapat dihindari dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
| Kesalahan | Solusi |
|---|---|
| Bahasa tidak formal | Gunakan bahasa baku dan formal. Hindari singkatan dan bahasa gaul. |
| Kalimat ambigu | Buat kalimat yang jelas, ringkas, dan tidak menimbulkan interpretasi ganda. |
| Kurang detail | Cantumkan semua detail penting, seperti jumlah uang, tanggal jatuh tempo, dan sanksi keterlambatan. |
| Tidak mencantumkan saksi | Pastikan surat perjanjian ditandatangani oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh saksi yang terpercaya. |
Contoh Surat Perjanjian Lengkap

Membuat surat perjanjian, khususnya untuk transaksi penting seperti jual beli kendaraan bermotor, merupakan langkah krusial untuk melindungi kedua belah pihak. Dokumen ini menjadi bukti hukum yang kuat dan menghindari potensi sengketa di kemudian hari. Kejelasan dan detail dalam surat perjanjian sangat penting, sehingga semua poin kesepakatan tercantum dengan rinci dan tidak menimbulkan ambiguitas. Berikut contoh surat perjanjian jual beli kendaraan bermotor yang bisa menjadi acuan.
Contoh Surat Perjanjian Jual Beli Kendaraan Bermotor
Berikut contoh surat perjanjian jual beli kendaraan bermotor yang lengkap dan detail. Perhatikan setiap poin yang tercantum agar terhindar dari potensi masalah hukum di masa mendatang. Ingat, konsultasi dengan ahli hukum selalu dianjurkan untuk memastikan keabsahan dan perlindungan hukum yang optimal.
SURAT PERJANJIAN JUAL BELI KENDARAAN BERMOTORPada hari ini, [Hari], [Tanggal], [Bulan], [Tahun], bertempat di [Tempat], telah dibuat dan ditandatangani sebuah perjanjian jual beli kendaraan bermotor antara:Pihak Pertama: [Nama Pemilik], beralamat di [Alamat Pemilik], selanjutnya disebut sebagai “PENJUAL”.Pihak Kedua: [Nama Pembeli], beralamat di [Alamat Pembeli], selanjutnya disebut sebagai “PEMBELI”.Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan perjanjian jual beli kendaraan bermotor dengan spesifikasi sebagai berikut:Merk/Type: [Merk dan Tipe Kendaraan]No. Polisi: [Nomor Polisi]No. Rangka: [Nomor Rangka]No. Mesin: [Nomor Mesin]Tahun Pembuatan: [Tahun Pembuatan]Warna: [Warna Kendaraan]Dengan harga jual sebesar Rp [Harga Jual], yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Pembayaran dilakukan secara [Cara Pembayaran, misalnya: tunai/kredit] dengan rincian sebagai berikut: [Rincian Pembayaran, jika kredit sebutkan angsuran, bunga, dsb.].Kendaraan tersebut dijual dalam keadaan [Kondisi Kendaraan, misalnya: baik/rusak]. Penjual menjamin bahwa kendaraan tersebut adalah miliknya dan bebas dari sengketa hukum.Kedua belah pihak setuju untuk menyelesaikan segala permasalahan yang timbul sehubungan dengan perjanjian ini melalui jalur musyawarah mufakat. Apabila musyawarah tidak berhasil, maka kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui jalur hukum yang berlaku di Indonesia.Demikian perjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun._________________________ _________________________(PENJUAL) (PEMBELI)