Contoh soal BEP unit menjadi kunci pemahaman mendasar bagi setiap pelaku bisnis, baik skala kecil hingga korporasi besar. Memahami titik impas (BEP) bukan sekadar angka, melainkan peta navigasi menuju keberhasilan finansial. Menguasai perhitungan BEP unit, baik untuk bisnis ritel, manufaktur, atau jasa, membuka jalan menuju pengambilan keputusan yang lebih tepat dan terukur. Dengan memahami BEP unit, Anda mampu meminimalisir risiko kerugian dan memaksimalkan keuntungan.
Artikel ini akan mengupas tuntas konsep BEP unit, rumusnya, cara menghitungnya, serta aplikasinya dalam berbagai skenario bisnis. Siap-siap, perjalanan menuju profitabilitas akan dimulai!
Titik impas atau Break Even Point (BEP) unit merupakan jumlah unit barang atau jasa yang harus dijual agar pendapatan sama dengan total biaya. Dengan kata lain, pada titik BEP unit, perusahaan tidak untung dan tidak rugi. Perhitungan BEP unit melibatkan beberapa faktor penting seperti harga jual per unit, biaya tetap, dan biaya variabel. Memahami interaksi antara faktor-faktor ini sangat krusial untuk menentukan strategi bisnis yang tepat.
Contoh soal BEP unit yang beragam akan dibahas di sini, membantu Anda mengaplikasikan konsep ini dalam berbagai situasi bisnis yang mungkin Anda hadapi.
Pengertian BEP Unit: Contoh Soal Bep Unit
Break Even Point (BEP) unit adalah jumlah unit produk yang harus dijual agar perusahaan mencapai titik impas, di mana total pendapatan sama dengan total biaya. Menentukan BEP unit krusial bagi bisnis, terutama untuk mengukur kelayakan produk dan menentukan strategi penjualan yang efektif. Memahami BEP unit membantu bisnis merencanakan produksi, menetapkan harga, dan mengelola keuangan secara optimal. Dengan kata lain, ini adalah titik di mana usaha Anda tidak untung dan tidak rugi, sebuah patokan penting untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Perhitungan BEP unit membantu pemilik usaha untuk menentukan berapa banyak produk yang harus terjual agar dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Informasi ini sangat berharga dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk menentukan target penjualan, mengelola inventaris, dan mengalokasikan sumber daya secara efisien. Bayangkan seperti ini: Anda punya toko kue, BEP unit akan memberitahu Anda berapa banyak kue yang harus terjual agar semua biaya, dari sewa toko hingga bahan baku, terbayar lunas.
Memahami contoh soal BEP unit penting banget, lho, untuk mengukur kinerja bisnis, terutama saat ingin ekspansi. Bayangkan, jika kamu ingin terjun ke bisnis yang trend di luar negeri , perhitungan BEP unit akan jadi acuan sebelum investasi besar-besaran. Dengan menguasai konsep ini, kamu bisa memprediksi titik impas dan meminimalisir risiko kerugian. Jadi, sebelum memulai usaha, pahami dulu contoh soal BEP unit agar langkahmu lebih terarah dan sukses.
Ketepatan analisis BEP unit akan menentukan keberhasilan bisnis di masa mendatang, baik di pasar lokal maupun internasional.
Perhitungan BEP Unit dalam Bisnis Ritel
Mari kita ilustrasikan perhitungan BEP unit dengan contoh bisnis ritel. Misalnya, sebuah toko pakaian menjual kemeja dengan harga jual Rp100.000 per unit. Biaya variabel per unit (biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dll.) adalah Rp40.
000. Biaya tetap bulanan (sewa, gaji karyawan, utilitas) adalah Rp2.000.
000. Rumus BEP unit adalah:
BEP Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel Per Unit)
Dengan memasukkan angka-angka di atas, perhitungannya menjadi:
BEP Unit = Rp2.000.000 / (Rp100.000 – Rp40.000) = 33,33 unit
Artinya, toko pakaian tersebut harus menjual sekitar 34 kemeja setiap bulan untuk mencapai titik impas. Angka ini memberikan gambaran yang jelas tentang target penjualan minimum yang harus dicapai agar bisnis tetap berjalan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perhitungan BEP Unit
Beberapa faktor eksternal dan internal dapat mempengaruhi perhitungan BEP unit. Memahami faktor-faktor ini penting untuk membuat perencanaan yang lebih akurat dan realistis. Ketepatan dalam memperhitungkan faktor-faktor ini akan menghasilkan perencanaan yang lebih efektif.
- Biaya Tetap: Perubahan sewa, gaji, atau utilitas akan langsung mempengaruhi BEP unit.
- Biaya Variabel: Fluktuasi harga bahan baku atau perubahan efisiensi produksi akan mengubah biaya variabel per unit dan, pada gilirannya, BEP unit.
- Harga Jual: Penyesuaian harga jual, baik karena promosi atau perubahan strategi pemasaran, akan berdampak signifikan pada BEP unit.
- Volume Penjualan: Perubahan permintaan pasar akan mempengaruhi volume penjualan dan mendekatkan atau menjauhkan bisnis dari titik impas.
- Efisiensi Operasional: Peningkatan efisiensi dalam operasional dapat menurunkan biaya variabel dan mengurangi BEP unit.
Perbandingan BEP Unit dan BEP Rupiah
BEP unit dan BEP rupiah merupakan dua cara berbeda untuk melihat titik impas. Penting untuk memahami perbedaan keduanya agar dapat mengambil keputusan bisnis yang tepat. Berikut perbandingannya:
| Aspek | BEP Unit | BEP Rupiah |
|---|---|---|
| Definisi | Jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas. | Total pendapatan yang harus dicapai untuk mencapai titik impas. |
| Perhitungan | Biaya Tetap / (Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel Per Unit) | Biaya Tetap / [(Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel Per Unit) / Harga Jual Per Unit] |
| Interpretasi | Menunjukkan jumlah unit yang harus terjual. | Menunjukkan total penjualan dalam rupiah yang harus dicapai. |
Perbedaan Utama BEP Unit dan BEP Rupiah
Perbedaan utama antara BEP unit dan BEP rupiah terletak pada satuan ukurnya. BEP unit dinyatakan dalam jumlah unit produk, sementara BEP rupiah dinyatakan dalam nilai rupiah. BEP unit lebih fokus pada volume penjualan, sedangkan BEP rupiah lebih fokus pada nilai penjualan. Memanfaatkan kedua metode ini secara bersamaan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kinerja keuangan bisnis.
Rumus dan Cara Menghitung BEP Unit
Menghitung Break Even Point (BEP) unit adalah kunci bagi setiap bisnis untuk mencapai keberhasilan. Memahami titik impas ini, di mana pendapatan sama dengan biaya, memungkinkan perusahaan untuk merencanakan strategi penjualan dan produksi yang efektif. Dengan mengetahui BEP unit, perusahaan dapat menentukan berapa banyak unit produk yang harus dijual untuk menutup semua biaya operasional dan mulai menghasilkan keuntungan. Mari kita selami lebih dalam bagaimana menghitungnya.
Rumus Perhitungan BEP Unit
Rumus BEP unit merupakan formula dasar yang digunakan untuk menentukan jumlah unit yang harus dijual agar bisnis mencapai titik impas. Rumus ini membantu bisnis menentukan target penjualan yang realistis dan strategi harga yang tepat. Ketepatan perhitungan ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha dan meraih profitabilitas.
Memahami contoh soal BEP unit penting bagi pebisnis, karena membantu menentukan titik impas produksi. Namun, sebelum kembali ke rumus dan perhitungan, sejenak mari kita beralih ke hal yang lebih menyegarkan: mengetahui manfaat luar biasa dari minuman campuran manfaat madu susu telur yang bisa meningkatkan stamina setelah bergulat dengan angka-angka BEP. Setelah menikmati segelas minuman sehat itu, kita bisa kembali fokus menganalisis contoh soal BEP unit dengan lebih cermat dan efektif, menghitung biaya tetap, biaya variabel, dan harga jual untuk menentukan titik impas usaha Anda.
BEP Unit = Total Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Penjelasan Variabel dalam Rumus BEP Unit
Masing-masing variabel dalam rumus BEP unit memiliki peran krusial dalam menentukan titik impas. Pemahaman yang mendalam terhadap setiap variabel akan memastikan perhitungan yang akurat dan keputusan bisnis yang tepat. Berikut penjelasan detailnya:
- Total Biaya Tetap: Biaya yang tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan berubah. Contohnya: sewa, gaji karyawan tetap, depresiasi.
- Harga Jual per Unit: Harga jual satu unit produk.
- Biaya Variabel per Unit: Biaya yang berubah secara proporsional terhadap volume produksi atau penjualan. Contohnya: bahan baku, tenaga kerja langsung.
Contoh Kasus Perhitungan BEP Unit
Bayangkan sebuah usaha kecil yang memproduksi kue. Untuk memperjelas, mari kita gunakan data penjualan fiktif berikut:
| Keterangan | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Total Biaya Tetap (Sewa, Gaji, dll.) | 1.000.000 |
| Harga Jual per Unit (Kue) | 10.000 |
| Biaya Variabel per Unit (Bahan Baku, dll.) | 5.000 |
Dengan menggunakan rumus BEP Unit, kita dapat menghitung titik impas:
BEP Unit = 1.000.000 / (10.000 – 5.000) = 200 unit
Artinya, usaha kue tersebut harus menjual 200 unit kue untuk mencapai titik impas. Setelah menjual 200 unit, setiap kue yang terjual selanjutnya akan menghasilkan keuntungan.
Langkah-langkah Perhitungan BEP Unit Secara Sistematis, Contoh soal bep unit
- Kumpulkan Data: Tentukan total biaya tetap, harga jual per unit, dan biaya variabel per unit.
- Hitung Marjin Kontribusi: Kurangi biaya variabel per unit dari harga jual per unit. Marjin kontribusi ini mewakili kontribusi setiap unit yang dijual untuk menutup biaya tetap.
- Hitung BEP Unit: Bagi total biaya tetap dengan marjin kontribusi.
- Analisis Hasil: Interpretasikan hasil perhitungan untuk menentukan strategi penjualan dan produksi yang efektif.
Contoh Soal BEP Unit Beserta Penyelesaiannya
Sebuah perusahaan memproduksi sepatu dengan biaya tetap Rp 50.000.000, harga jual per pasang sepatu Rp 250.000, dan biaya variabel per pasang sepatu Rp 150.000. Berapa BEP unit perusahaan tersebut?
Penyelesaian:
1. Total Biaya Tetap = Rp 50.000.000
2. Harga Jual per Unit = Rp 250.000
3. Biaya Variabel per Unit = Rp 150.000
Memahami contoh soal BEP unit penting bagi pebisnis, sebagaimana pentingnya memahami cita rasa kuliner. Bayangkan menghitung BEP untuk usaha kuliner, misalnya, jika Anda berencana menjual makanan khas Palembang pempek yang terkenal lezat itu. Analisis BEP akan membantu menentukan jumlah pempek yang harus terjual agar usaha Anda mencapai titik impas. Dengan begitu, Anda bisa merencanakan strategi pemasaran dan produksi yang tepat.
Kembali ke contoh soal BEP unit, perhitungan yang akurat akan memberikan gambaran yang jelas tentang kesehatan finansial usaha Anda.
4. BEP Unit = Total Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Memahami contoh soal BEP unit penting bagi pebisnis, karena menentukan titik impas usaha. Namun, untuk skala bisnis yang lebih besar, mungkin kamu perlu strategi pemasaran yang efektif, misalnya dengan memanfaatkan pulsa. Nah, tau nggak sih cara mudahnya? Coba cek panduan lengkapnya di cara membuat TM Telkomsel untuk optimasi penjualan. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus menganalisis contoh soal BEP unit dan merencanakan strategi bisnis yang tepat, menghitung potensi keuntungan, dan meminimalisir risiko kerugian.
5. BEP Unit = 50.000.000 / (250.000 – 150.000) = 500 pasang sepatu
Jadi, perusahaan tersebut harus menjual 500 pasang sepatu untuk mencapai titik impas.
Mengerjakan contoh soal BEP unit memang butuh ketelitian, layaknya memilih barang unik di toko barang unik terdekat. Analisa titik impas ini krusial bagi pebisnis, sebagaimana pemilihan produk yang tepat untuk menarik pelanggan. Memahami perhitungan BEP unit, dari rumus hingga penerapannya, akan membantu menentukan harga jual optimal dan mengoptimalkan keuntungan. Dengan menguasai contoh soal BEP unit, Anda siap menghadapi tantangan bisnis, seperti halnya memilih barang unik yang sesuai dengan selera pasar.
Jadi, latih terus kemampuan analisa Anda!
Interpretasi Hasil Perhitungan BEP Unit

Memahami Break Even Point (BEP) unit merupakan kunci keberhasilan bisnis. Angka ini menunjukkan jumlah unit produk yang harus terjual agar perusahaan mencapai titik impas, di mana pendapatan sama dengan biaya. Interpretasi hasil perhitungan BEP unit, baik tinggi maupun rendah, memiliki implikasi yang signifikan terhadap strategi bisnis ke depan. Dengan pemahaman yang tepat, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mencapai profitabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Interpretasi BEP unit bergantung pada konteks industri, strategi pemasaran, dan struktur biaya perusahaan. Sebuah BEP unit yang tinggi tidak selalu buruk, begitu pula BEP unit yang rendah tidak selalu menjamin kesuksesan. Analisis yang komprehensif dibutuhkan untuk memahami implikasinya.
BEP Unit Tinggi dan Rendah: Interpretasi dan Implikasinya
BEP unit yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan membutuhkan penjualan dalam jumlah besar untuk mencapai titik impas. Ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti biaya tetap yang tinggi, harga jual yang rendah, atau margin keuntungan yang tipis. Sebaliknya, BEP unit yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan lebih cepat mencapai titik impas, hal ini umumnya karena biaya tetap yang rendah, harga jual yang tinggi, atau margin keuntungan yang besar.
Namun, perlu diingat bahwa BEP unit hanyalah salah satu indikator kinerja, bukan satu-satunya.
Contoh Interpretasi BEP Unit Tinggi
Bayangkan sebuah restoran baru dengan konsep mewah dan interior yang mahal. Biaya sewa tempat yang tinggi, gaji karyawan yang besar, dan bahan baku berkualitas premium berkontribusi pada biaya tetap yang signifikan. Akibatnya, BEP unit restoran ini menjadi tinggi. Mereka perlu menjual banyak makanan dan minuman untuk menutupi biaya operasional dan mencapai titik impas. Strategi pemasaran yang tepat, seperti penciptaan brand image eksklusif dan layanan pelanggan yang prima, menjadi krusial untuk menarik pelanggan dan mencapai BEP tersebut.
Contoh Interpretasi BEP Unit Rendah
Berbeda dengan restoran mewah, sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan cenderung memiliki BEP unit yang rendah. Biaya operasionalnya yang minim, seperti sewa tempat yang terjangkau dan penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis, membuat mereka lebih cepat mencapai titik impas. Walaupun margin keuntungan per unit mungkin lebih kecil, volume penjualan yang tinggi dapat mengimbangi hal tersebut. Strategi mereka lebih fokus pada efisiensi operasional dan jangkauan pasar yang luas.
Strategi Menurunkan BEP Unit
Menurunkan BEP unit merupakan tujuan strategis bagi sebagian besar bisnis. Beberapa strategi yang dapat diimplementasikan meliputi:
- Menurunkan Biaya Tetap: Negosiasi sewa yang lebih rendah, efisiensi penggunaan energi, dan optimasi proses operasional dapat mengurangi biaya tetap.
- Meningkatkan Harga Jual: Meningkatkan persepsi nilai produk atau layanan, memperkenalkan fitur tambahan, atau meningkatkan kualitas dapat memungkinkan kenaikan harga jual.
- Meningkatkan Efisiensi Produksi: Penggunaan teknologi, peningkatan keterampilan karyawan, dan optimasi rantai pasokan dapat menurunkan biaya variabel per unit.
- Diversifikasi Produk: Menawarkan produk atau layanan tambahan dapat membantu menyebarkan risiko dan meningkatkan pendapatan secara keseluruhan.
- Peningkatan Strategi Pemasaran: Meningkatkan penjualan dengan pemasaran yang efektif dan efisien, baik secara online maupun offline.
Penerapan BEP Unit dalam Pengambilan Keputusan Bisnis
Break-Even Point (BEP) unit, atau titik impas dalam satuan unit, merupakan alat analisis fundamental bagi setiap bisnis. Memahami BEP unit bukan sekadar soal angka; ini tentang pemahaman mendalam akan kesehatan finansial perusahaan dan kemampuannya untuk bertahan serta berkembang. Dengan mengetahui berapa banyak unit yang harus terjual agar menutup seluruh biaya, bisnis dapat membuat keputusan strategis yang lebih cerdas, mulai dari penentuan harga hingga perencanaan produksi.
Mari kita telusuri bagaimana BEP unit berperan krusial dalam pengambilan keputusan bisnis.
Penggunaan BEP Unit dalam Pengambilan Keputusan Bisnis
BEP unit berfungsi sebagai kompas navigasi bisnis. Ia memberikan gambaran jelas tentang jumlah minimal penjualan yang dibutuhkan untuk menghindari kerugian. Informasi ini sangat berharga dalam berbagai aspek pengambilan keputusan, seperti penetapan target penjualan, evaluasi efisiensi operasional, dan perencanaan strategi pemasaran. Dengan mengetahui titik impas, perusahaan dapat menetapkan target penjualan yang realistis dan mengukur kinerja mereka secara efektif. Jika penjualan berada di bawah BEP unit, perusahaan perlu mengambil tindakan korektif, seperti memangkas biaya atau meningkatkan penjualan.
Sebaliknya, jika penjualan melampaui BEP unit, perusahaan dapat mengoptimalkan keuntungan dan mempertimbangkan ekspansi.
Contoh Kasus Penerapan BEP Unit dalam Pengambilan Keputusan Investasi
Bayangkan sebuah startup minuman kekinian yang berencana untuk membuka cabang baru. Sebelum memutuskan investasi besar-besaran, mereka menghitung BEP unit untuk cabang baru tersebut. Misalnya, biaya tetap (sewa, gaji karyawan, utilitas) diperkirakan Rp 50.000.000 per bulan, dan harga jual per unit minuman adalah Rp 25.
000. Biaya variabel per unit (bahan baku, kemasan) adalah Rp 10.
000. Dengan rumus BEP unit (Biaya Tetap / (Harga Jual – Biaya Variabel)), mereka menghitung titik impas: Rp 50.000.000 / (Rp 25.000 – Rp 10.000) = 3.333 unit. Artinya, cabang baru tersebut harus menjual minimal 3.333 unit minuman per bulan agar tidak merugi. Data ini menjadi pertimbangan penting dalam keputusan investasi, apakah prospek penjualan di lokasi baru mampu mencapai angka tersebut atau tidak.
Keterbatasan Penggunaan BEP Unit dalam Pengambilan Keputusan
Meskipun bermanfaat, BEP unit memiliki keterbatasan. Model ini mengasumsikan hubungan linier antara biaya dan volume penjualan, yang mungkin tidak selalu akurat dalam dunia bisnis yang dinamis. BEP unit juga tidak memperhitungkan faktor eksternal seperti perubahan harga bahan baku, persaingan, dan tren pasar. Selain itu, BEP unit hanya fokus pada aspek finansial dan mengabaikan faktor-faktor kualitatif lainnya, seperti kualitas produk, kepuasan pelanggan, dan reputasi merek.
Oleh karena itu, BEP unit sebaiknya digunakan sebagai salah satu alat analisis, bukan satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Contoh Soal Kasus Bisnis yang Memerlukan Perhitungan BEP Unit untuk Pengambilan Keputusan
Sebuah usaha kecil menengah (UKM) memproduksi kerajinan tangan. Biaya tetap bulanan mereka adalah Rp 1.500.000, harga jual per unit kerajinan adalah Rp 50.000, dan biaya variabel per unit adalah Rp 25.000. Berapa BEP unit mereka? Bagaimana jika mereka ingin meningkatkan laba bersih sebesar 20% dari target BEP, berapa unit tambahan yang harus mereka jual?
- Perhitungan BEP unit: Rp 1.500.000 / (Rp 50.000 – Rp 25.000) = 60 unit. Artinya, UKM tersebut harus menjual minimal 60 unit kerajinan per bulan untuk mencapai titik impas.
- Untuk meningkatkan laba bersih 20% dari BEP, pertama-tama hitung laba bersih pada BEP: 60 unit x (Rp 50.000 – Rp 25.000) = Rp 1.500.
- Kemudian, hitung target laba bersih baru: Rp 1.500.000 + (20% x Rp 1.500.000) = Rp 1.800.
- Terakhir, hitung jumlah unit tambahan yang harus dijual: (Rp 1.800.000 + Rp 1.500.000) / (Rp 50.000 – Rp 25.000)
- 60 unit = 24 unit tambahan.
Penting untuk memahami BEP unit sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Meskipun memiliki keterbatasan, analisis BEP unit memberikan wawasan berharga dalam pengambilan keputusan yang lebih efektif dan berorientasi pada profitabilitas. Penggunaan yang tepat, dikombinasikan dengan analisis lain, akan membantu bisnis mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.
Contoh Soal BEP Unit Berbagai Jenis Bisnis

Memahami Break Even Point (BEP) unit, atau titik impas dalam satuan unit, sangat krusial bagi setiap bisnis, tak peduli seberapa besar atau kecil skalanya. Mengetahui titik impas ini membantu pengusaha menentukan jumlah produksi atau layanan yang harus dihasilkan agar bisnis tidak mengalami kerugian. Artikel ini akan memberikan contoh perhitungan BEP unit untuk berbagai jenis bisnis, membantu Anda memahami konsep ini dengan lebih jelas dan praktis.
Kita akan melihat perbedaan pendekatan perhitungannya dan membandingkannya dalam sebuah tabel yang mudah dipahami.
Contoh Soal BEP Unit untuk Bisnis Jasa
Bayangkan sebuah usaha jasa konsultasi keuangan. Biaya tetap bulanan mereka, termasuk sewa kantor dan gaji karyawan, adalah Rp 10.000.
000. Harga jasa konsultasi per klien adalah Rp 5.000.000, sementara biaya variabel per klien (biaya operasional seperti perjalanan dan bahan habis pakai) adalah Rp 1.000.
000.
Untuk menghitung BEP unit, kita gunakan rumus:
BEP Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Maka, BEP unit untuk usaha jasa konsultasi ini adalah: Rp 10.000.000 / (Rp 5.000.000 – Rp 1.000.000) = 2,5 unit. Artinya, mereka perlu melayani minimal 3 klien per bulan agar mencapai titik impas dan mulai mendapatkan keuntungan.
Contoh Soal BEP Unit untuk Bisnis Manufaktur
Sebuah pabrik kecil memproduksi tas. Biaya tetap pabrik, termasuk sewa mesin dan gaji karyawan, adalah Rp 20.000.000 per bulan. Harga jual per tas adalah Rp 50.000, dan biaya variabel per tas (bahan baku dan tenaga kerja langsung) adalah Rp 20.
000. Dengan menggunakan rumus yang sama:
BEP Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
BEP unit pabrik tas ini adalah: Rp 20.000.000 / (Rp 50.000 – Rp 20.000) = 666,67 unit. Pembulatan ke atas berarti pabrik perlu memproduksi dan menjual minimal 667 tas per bulan untuk mencapai titik impas.
Contoh Soal BEP Unit untuk Bisnis Perdagangan
Toko buku kecil memiliki biaya tetap bulanan sebesar Rp 5.000.000 (sewa toko dan gaji karyawan). Mereka menjual buku dengan harga rata-rata Rp 50.000 per buku, dan biaya variabel per buku (harga beli buku dari penerbit) adalah Rp 30.
000. Perhitungan BEP unitnya adalah:
BEP Unit = Biaya Tetap / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Jadi, BEP unit toko buku ini adalah: Rp 5.000.000 / (Rp 50.000 – Rp 30.000) = 250 unit. Artinya, toko buku harus menjual minimal 250 buku per bulan untuk mencapai titik impas.
Perbedaan Pendekatan Perhitungan BEP Unit Antar Jenis Bisnis
Meskipun rumus BEP unitnya sama, pendekatan dalam menentukan biaya tetap dan variabel bisa berbeda antar jenis bisnis. Bisnis jasa lebih fokus pada biaya tenaga kerja dan operasional, sementara bisnis manufaktur memperhitungkan biaya bahan baku dan produksi secara detail. Bisnis perdagangan berfokus pada selisih harga beli dan harga jual. Akurasi perhitungan BEP bergantung pada ketepatan identifikasi biaya tetap dan variabel.
Tabel Perbandingan Contoh Soal BEP Unit Berbagai Jenis Bisnis
| Jenis Bisnis | Biaya Tetap | Harga Jual per Unit | Biaya Variabel per Unit | BEP Unit |
|---|---|---|---|---|
| Jasa Konsultasi | Rp 10.000.000 | Rp 5.000.000 | Rp 1.000.000 | 3 |
| Manufaktur Tas | Rp 20.000.000 | Rp 50.000 | Rp 20.000 | 667 |
| Perdagangan Buku | Rp 5.000.000 | Rp 50.000 | Rp 30.000 | 250 |