Pengertian Biaya Tidak Tetap dalam Bisnis

Aurora July 13, 2025

Pengertian biaya tidak tetap, begitu krusial dalam dunia bisnis! Bayangkan, setiap keputusan produksi, penetapan harga, bahkan perencanaan keuangan jangka panjang, sangat dipengaruhi olehnya. Biaya yang naik-turun seiring produksi ini, bisa jadi kunci sukses atau kegagalan usaha. Memahami seluk-beluknya, dari definisi hingga strategi manajemennya, adalah kunci untuk mengoptimalkan profitabilitas. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana biaya ini berperan penting dalam roda perekonomian, mulai dari manufaktur hingga jasa konsultansi.

Dengan memahami inti permasalahannya, Anda akan mampu mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas dan terukur.

Biaya tidak tetap, berbeda dengan biaya tetap, merupakan pengeluaran bisnis yang berubah sesuai dengan tingkat aktivitas atau volume produksi. Semakin tinggi produksi, semakin besar biaya tidak tetap yang dikeluarkan, dan sebaliknya. Contohnya, biaya bahan baku dalam perusahaan manufaktur, komisi penjualan di perusahaan ritel, atau biaya tenaga kerja lembur di perusahaan jasa. Pemahaman yang komprehensif tentang biaya tidak tetap, termasuk jenis-jenisnya, pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan, dan strategi manajemennya, sangat penting untuk keberhasilan bisnis.

Analisa yang tepat akan membantu menentukan harga jual yang kompetitif, memaksimalkan keuntungan, dan memastikan keberlangsungan usaha.

Definisi Biaya Tidak Tetap

Pengertian Biaya Tidak Tetap dalam Bisnis

Biaya tidak tetap, atau sering disebutvariable cost*, merupakan pengeluaran bisnis yang fluktuatif, bergantung langsung pada tingkat produksi atau volume penjualan. Semakin tinggi produksi, semakin besar biaya ini. Berbeda dengan biaya tetap yang konstan, biaya tidak tetap ini dinamis dan menjadi faktor krusial dalam menentukan profitabilitas sebuah usaha. Memahami seluk-beluknya penting bagi setiap pebisnis, dari pengusaha UMKM hingga korporasi besar, untuk mengoptimalkan efisiensi dan keuntungan.

Biaya tidak tetap, seperti namanya, berfluktuasi tergantung tingkat produksi. Bayangkan perusahaan besar seperti pt adaro energy indonesia tbk , biaya bahan bakar atau biaya perbaikan mesin akan berubah seiring dengan volume produksi batubara. Semakin banyak batubara yang diproduksi, semakin tinggi biaya tidak tetap ini.

Oleh karena itu, memahami perilaku biaya tidak tetap sangat krusial dalam perencanaan keuangan perusahaan, terutama untuk menjaga profitabilitas di berbagai tingkat operasional.

Biaya tidak tetap secara sederhana adalah pengeluaran yang berubah seiring perubahan aktivitas operasional bisnis. Bayangkan sebuah pabrik garmen; semakin banyak baju yang diproduksi, semakin banyak pula kain, benang, dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Ini adalah contoh nyata bagaimana biaya tidak tetap bekerja. Begitu pula di bisnis kuliner, semakin banyak pesanan, semakin banyak bahan baku yang diperlukan. Kepekaan biaya ini terhadap volume usaha menjadikannya kunci penting dalam perencanaan keuangan dan strategi bisnis.

Contoh Biaya Tidak Tetap Berbagai Jenis Bisnis

Penerapan biaya tidak tetap beragam di berbagai sektor bisnis. Memahami contoh-contoh konkret akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana biaya ini beroperasi.

Biaya tidak tetap, seperti namanya, fluktuatif dan bergantung pada tingkat produksi. Bayangkan Anda membuat usaha sampingan, misalnya membuat gantungan kunci dari barang bekas ; biaya bahan baku seperti manik-manik atau kain perca akan termasuk biaya tidak tetap karena jumlahnya bervariasi tergantung jumlah gantungan kunci yang diproduksi. Semakin banyak gantungan kunci yang dibuat, semakin tinggi pula biaya bahan bakunya.

Jadi, pahamilah bahwa perhitungan biaya tidak tetap ini krusial dalam menentukan harga jual dan profitabilitas usaha Anda.

  • Manufaktur: Biaya bahan baku, upah buruh produksi (berdasarkan jumlah unit yang diproduksi), biaya energi (jika pemakaiannya bergantung pada tingkat produksi), biaya kemasan.
  • Jasa: Komisi penjualan (berdasarkan jumlah penjualan yang berhasil), biaya bahan habis pakai (misalnya, tinta printer untuk jasa percetakan), biaya transportasi (jika terkait langsung dengan jumlah layanan yang diberikan).
  • Ritel: Biaya barang dagang (tergantung jumlah barang yang terjual), komisi penjualan, biaya promosi (jika berbasis penjualan, seperti program diskon).

Perbandingan Biaya Tidak Tetap dan Biaya Tetap

Memahami perbedaan antara biaya tetap dan biaya tidak tetap sangat penting dalam pengambilan keputusan bisnis. Tabel berikut ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas.

Jenis BiayaDefinisiContohKarakteristik
Biaya Tetap (Fixed Cost)Biaya yang tetap jumlahnya meskipun terjadi perubahan tingkat produksi atau volume penjualan.Sewa gedung, gaji karyawan tetap, asuransi, cicilan pinjaman.Tetap, tidak bergantung pada aktivitas operasional.
Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)Biaya yang berubah jumlahnya seiring perubahan tingkat produksi atau volume penjualan.Bahan baku, upah lembur, komisi penjualan, biaya listrik (jika bergantung pada produksi).Variabel, bergantung langsung pada aktivitas operasional.

Contoh Kasus Pengaruh Biaya Tidak Tetap terhadap Profitabilitas

Berikut beberapa skenario yang menggambarkan bagaimana fluktuasi biaya tidak tetap dapat memengaruhi keuntungan bisnis.

  1. Restoran: Sebuah restoran mengalami peningkatan pesanan yang signifikan selama musim liburan. Meskipun pendapatan meningkat, biaya bahan baku juga naik secara drastis, sehingga laba bersih tidak meningkat secara proporsional. Manajemen restoran perlu mengantisipasi peningkatan permintaan ini dengan strategi pengadaan bahan baku yang efisien.
  2. Pabrik Sepatu: Pabrik sepatu mengalami penurunan permintaan. Untuk mengurangi biaya, pabrik mengurangi produksi dan otomatis mengurangi biaya bahan baku dan upah buruh produksi. Namun, biaya tetap seperti sewa pabrik dan gaji karyawan tetap tetap harus dibayar, sehingga profitabilitas menurun.
  3. Toko Online: Toko online menerapkan program diskon besar-besaran. Meskipun penjualan meningkat tajam, laba bersih bisa menurun jika biaya pemasaran dan diskon melebihi peningkatan pendapatan. Analisis cermat antara peningkatan penjualan dan biaya pemasaran sangat penting.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Biaya Tidak Tetap

Beberapa faktor eksternal dan internal dapat memengaruhi besarnya biaya tidak tetap. Pemahaman yang baik terhadap faktor-faktor ini penting untuk perencanaan dan pengendalian biaya yang efektif.

  • Harga bahan baku: Fluktuasi harga pasar bahan baku akan langsung berdampak pada biaya produksi.
  • Tingkat produksi: Semakin tinggi produksi, semakin besar biaya tidak tetap yang dikeluarkan.
  • Efisiensi produksi: Peningkatan efisiensi dapat mengurangi biaya tidak tetap per unit produk.
  • Kebijakan pemerintah: Kebijakan pemerintah seperti pajak dan bea cukai dapat mempengaruhi harga bahan baku dan biaya produksi.

Jenis-Jenis Biaya Tidak Tetap

Costs variable fixed examples health resources life salaries sciences ucsf activities week digital

Memahami biaya tidak tetap (fixed cost) krusial bagi kesuksesan bisnis, baik skala kecil maupun besar. Biaya ini, berbeda dengan biaya variabel yang berfluktuasi sesuai volume produksi, tetap konstan meskipun produksi naik atau turun. Mengelola biaya tidak tetap dengan cermat akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang profitabilitas dan membantu dalam pengambilan keputusan strategis. Mari kita telusuri lebih dalam berbagai jenis biaya tidak tetap dan bagaimana pengaruhnya terhadap bisnis Anda.

Pengelompokan Biaya Tidak Tetap

Biaya tidak tetap terbagi dalam beberapa kategori, masing-masing dengan karakteristik dan implikasi yang berbeda terhadap arus kas perusahaan. Pemahaman yang komprehensif tentang klasifikasi ini akan membantu Anda dalam merencanakan anggaran, mengoptimalkan pengeluaran, dan meningkatkan efisiensi operasional. Berikut beberapa jenis biaya tidak tetap yang umum ditemukan.

Biaya tidak tetap, seperti namanya, berfluktuasi tergantung volume produksi. Memahami seluk-beluknya krusial, terutama bagi Anda yang ingin memulai usaha. Perbedaan mendasar antara pengelolaan biaya ini terlihat jelas jika kita melihat perbedaan antara wirausaha dan wiraswasta, seperti yang dijelaskan di sini: beda wirausaha dan wiraswasta. Kemampuan mengelola biaya tidak tetap ini, misalnya biaya pemasaran atau bahan baku, menjadi penentu keberhasilan bisnis, baik bagi wirausaha yang inovatif maupun wiraswasta yang lebih konservatif.

Intinya, pemahaman yang baik terhadap biaya tidak tetap adalah kunci dalam strategi keuangan yang efektif dan berkelanjutan.

  • Biaya Sewa: Biaya tetap yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, baik berupa kantor, pabrik, atau gudang. Besarannya tidak berubah meskipun produksi meningkat atau menurun. Contoh: Sebuah perusahaan manufaktur sepatu membayar sewa pabrik sebesar Rp 50 juta per bulan, terlepas dari jumlah sepatu yang diproduksi.
  • Gaji Karyawan Tetap: Gaji yang dibayarkan kepada karyawan tetap, seperti manajer, staf administrasi, dan teknisi, merupakan biaya tetap yang tidak bergantung pada jumlah produksi. Contoh: Gaji direktur produksi tetap Rp 20 juta per bulan meskipun perusahaan hanya memproduksi 1000 pasang sepatu atau 10.000 pasang sepatu.
  • Biaya Asuransi: Premi asuransi untuk properti, peralatan, atau karyawan merupakan biaya tidak tetap yang perlu dibayar secara berkala, terlepas dari tingkat produksi. Contoh: Premi asuransi untuk pabrik sepatu sebesar Rp 10 juta per tahun, tetap dibayarkan meskipun produksi sedang menurun.
  • Biaya Depresiasi: Penurunan nilai aset tetap seperti mesin dan peralatan secara bertahap, dihitung sebagai biaya tidak tetap. Besarannya ditentukan oleh metode depresiasi yang digunakan. Contoh: Depresiasi mesin produksi sepatu sebesar Rp 5 juta per bulan, tetap dibebankan meskipun produksi sedang mengalami penurunan.
  • Biaya Bunga Pinjaman: Cicilan bunga pinjaman untuk modal usaha merupakan biaya tetap yang harus dibayar secara berkala, tidak bergantung pada volume produksi. Contoh: Bunga pinjaman untuk pembelian mesin produksi sepatu sebesar Rp 2 juta per bulan, tetap dibayarkan meskipun produksi menurun.

Ilustrasi Hubungan Volume Produksi dan Biaya Tidak Tetap

Perlu dipahami bahwa biaya tidak tetap tidak dipengaruhi oleh perubahan volume produksi. Meskipun perusahaan memproduksi lebih banyak sepatu, biaya sewa pabrik, gaji karyawan tetap, dan biaya asuransi tetap sama. Grafik sederhana dapat menggambarkan hal ini: sumbu X mewakili volume produksi (jumlah sepatu), dan sumbu Y mewakili biaya tidak tetap (dalam rupiah). Garis yang menggambarkan biaya tidak tetap akan berupa garis horizontal, menunjukkan konsistensi biaya terlepas dari perubahan volume produksi.

Biaya tidak tetap, seperti namanya, berfluktuasi dan tak selalu konstan. Besarnya bergantung pada volume produksi atau penjualan. Nah, jika kamu berencana memulai usaha, misalnya dengan mengeksplorasi ide bisnis di kampung yang menjanjikan, pahamilah bahwa biaya ini bisa sangat bervariasi. Misalnya, biaya bahan baku akan meningkat seiring dengan naiknya jumlah produk yang dihasilkan.

Oleh karena itu, perencanaan keuangan yang matang, termasuk memperhitungkan fluktuasi biaya tidak tetap, sangat krusial untuk kesuksesan bisnis kamu, agar tidak terjebak dalam perhitungan yang keliru.

Ini berbeda dengan biaya variabel yang akan membentuk garis naik secara linier.

Contoh Perhitungan Biaya Tidak Tetap Perusahaan Manufaktur Sepatu

Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur sepatu dengan biaya tidak tetap sebagai berikut: Sewa pabrik Rp 50 juta/bulan, Gaji karyawan tetap Rp 100 juta/bulan, Asuransi Rp 10 juta/tahun, Depresiasi mesin Rp 5 juta/bulan, Bunga pinjaman Rp 2 juta/bulan. Total biaya tidak tetap bulanan adalah Rp 167 juta (Rp 50 juta + Rp 100 juta + Rp 0.83 juta + Rp 5 juta + Rp 2 juta).

Perhatikan bahwa biaya asuransi dibagi 12 bulan untuk mendapatkan biaya bulanan.

Perbandingan Biaya Tidak Tetap Semi Variabel dan Biaya Tetap

Seringkali terjadi kebingungan antara biaya tidak tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap semi variabel (semi-variable cost). Biaya tetap sepenuhnya tidak bergantung pada volume produksi, sedangkan biaya tidak tetap semi variabel memiliki komponen tetap dan variabel. Contohnya, biaya tenaga listrik. Ada biaya dasar bulanan (tetap), dan biaya tambahan yang bergantung pada pemakaian (variabel). Semakin banyak mesin beroperasi, semakin tinggi biaya listriknya.

Biaya tidak tetap, seperti namanya, berfluktuasi dan tak selalu konsisten. Jumlahnya bergantung pada tingkat produksi atau aktivitas bisnis. Bayangkan, sebuah maskapai penerbangan seperti Lion Air Group, yang direktur Lion Air Group pasti sangat memahami hal ini. Mereka perlu mempertimbangkan biaya bahan bakar, yang merupakan biaya tidak tetap signifikan, bergantung pada seberapa banyak penerbangan yang dioperasikan.

Begitu pula dengan biaya perawatan pesawat dan gaji pilot tambahan jika ada peningkatan jumlah penerbangan. Intinya, biaya tidak tetap ini sangat dinamis dan berbeda setiap periode, sehingga perencanaan keuangan yang cermat sangat penting.

Namun, komponen biaya tetap tetap ada meskipun produksi nol.

Pengaruh Biaya Tidak Tetap terhadap Pengambilan Keputusan Bisnis

Pengertian biaya tidak tetap

Biaya tidak tetap, atau biaya overhead, merupakan elemen krusial dalam operasional bisnis. Memahami dampaknya terhadap pengambilan keputusan strategis sangat penting untuk mencapai profitabilitas dan keberlanjutan usaha. Kegagalan dalam mengelola biaya tidak tetap bisa berujung pada kerugian finansial yang signifikan, bahkan menyebabkan bisnis gulung tikar. Mari kita telusuri bagaimana biaya ini memengaruhi berbagai aspek bisnis, dari produksi hingga perencanaan jangka panjang.

Biaya Tidak Tetap dan Keputusan Produksi

Biaya tidak tetap, seperti sewa gedung, gaji manajemen, dan biaya utilitas, tidak bergantung pada volume produksi. Namun, tingkat produksi tetap memengaruhi efisiensi biaya tidak tetap per unit. Semakin tinggi volume produksi, semakin rendah biaya tidak tetap per unit, dan sebaliknya. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan skala ekonomi dalam memutuskan tingkat produksi agar biaya per unit tetap kompetitif.

Perusahaan yang memproduksi barang dalam jumlah besar cenderung memiliki biaya tidak tetap per unit yang lebih rendah dibandingkan perusahaan dengan skala produksi kecil. Ini menjadi pertimbangan utama dalam strategi produksi, terutama dalam industri dengan persaingan harga yang ketat.

Dampak Biaya Tidak Tetap terhadap Penetapan Harga Jual

Biaya tidak tetap turut menentukan harga jual produk. Perusahaan perlu memperhitungkan semua biaya, termasuk biaya tidak tetap, untuk menetapkan harga jual yang mampu menutup seluruh biaya dan menghasilkan profit. Jika biaya tidak tetap tinggi, perusahaan mungkin perlu menaikkan harga jual agar tetap menguntungkan. Namun, kenaikan harga jual juga berisiko mengurangi daya saing di pasar. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan analisis yang cermat untuk menemukan titik keseimbangan antara harga jual dan profitabilitas, dengan mempertimbangkan faktor pasar dan perilaku konsumen.

Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan meningkatkan efisiensi operasional untuk menekan biaya tidak tetap.

Strategi Manajemen Biaya Tidak Tetap yang Efektif

Mengoptimalkan biaya tidak tetap merupakan kunci keberhasilan bisnis. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain: negosiasi kontrak yang lebih menguntungkan dengan pemasok, mencari alternatif yang lebih murah untuk sumber daya, dan melakukan otomatisasi proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi. Pemantauan dan pengendalian biaya secara berkala juga penting untuk memastikan biaya tidak tetap tetap terkendali. Misalnya, perusahaan dapat melakukan analisis reguler terhadap penggunaan energi dan mencari cara untuk menghemat konsumsi energi, seperti beralih ke teknologi yang lebih hemat energi atau menerapkan program penghematan energi di kantor.

Implikasi Biaya Tidak Tetap terhadap Perencanaan Keuangan Jangka Panjang

Biaya tidak tetap memiliki implikasi signifikan terhadap perencanaan keuangan jangka panjang. Perusahaan perlu memperkirakan biaya tidak tetap secara akurat dalam proyeksi keuangan mereka. Ketidakakuratan dalam perkiraan dapat berdampak negatif terhadap arus kas dan profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, perencanaan yang matang dan realistis sangat penting. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan skenario yang berbeda, seperti peningkatan atau penurunan biaya tidak tetap, untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Perencanaan skenario ini akan membantu perusahaan dalam mengambil keputusan yang tepat dan meminimalkan risiko keuangan.

Studi Kasus Pengurangan Biaya Tidak Tetap dan Peningkatan Profit

Sebagai contoh, sebuah perusahaan manufaktur berhasil mengurangi biaya tidak tetapnya dengan mengganti sistem pencahayaan konvensional dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Selain itu, perusahaan tersebut juga melakukan negosiasi ulang kontrak sewa gedung dan berhasil mendapatkan harga sewa yang lebih rendah. Dengan pengurangan biaya tidak tetap tersebut, perusahaan mampu meningkatkan profitabilitasnya secara signifikan. Contoh lain, perusahaan ritel online berhasil mengurangi biaya pengiriman dengan mengoptimalkan rute pengiriman dan bernegosiasi dengan perusahaan jasa pengiriman.

Hal ini berdampak positif pada pengurangan biaya dan peningkatan profitabilitas. Perusahaan tersebut juga menerapkan sistem manajemen inventaris yang lebih efisien untuk mengurangi biaya penyimpanan.

Contoh Perhitungan dan Analisis Biaya Tidak Tetap: Pengertian Biaya Tidak Tetap

Memahami biaya tidak tetap krusial bagi keberlangsungan bisnis, terutama dalam pengambilan keputusan strategis. Biaya ini, berbeda dengan biaya tetap, berfluktuasi seiring perubahan volume produksi atau penjualan. Mengelola biaya tidak tetap secara efektif dapat meningkatkan profitabilitas dan daya saing perusahaan. Mari kita telusuri contoh perhitungan dan analisisnya, khususnya dalam konteks perusahaan jasa konsultan.

Perusahaan jasa konsultan, misalnya, memiliki biaya tidak tetap yang beragam, mulai dari biaya perjalanan hingga biaya lembur karyawan. Mengidentifikasi dan menganalisis tren biaya ini sangat penting untuk perencanaan keuangan yang efektif. Dengan pemahaman yang baik, perusahaan dapat mengoptimalkan pengeluaran dan memaksimalkan keuntungan.

Perhitungan Biaya Tidak Tetap Perusahaan Jasa Konsultan

Bayangkan sebuah perusahaan konsultan yang menangani proyek-proyek pengembangan bisnis. Biaya tidak tetap mereka meliputi biaya perjalanan konsultan ke lokasi klien, biaya penginapan, biaya makan, dan biaya lembur tim proyek jika proyek membutuhkan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Misalnya, dalam satu bulan, perusahaan tersebut mengerjakan tiga proyek. Proyek A membutuhkan biaya perjalanan Rp 5.000.000, Proyek B Rp 3.000.000, dan Proyek C Rp 2.000.000.

Total biaya perjalanan tidak tetap untuk bulan tersebut adalah Rp 10.000.000. Begitu pula dengan biaya lembur, misal Proyek A membutuhkan lembur senilai Rp 2.000.000, Proyek B Rp 1.000.000, dan Proyek C Rp 500.000, maka total biaya lembur tidak tetap adalah Rp 3.500.000. Dengan demikian, total biaya tidak tetap untuk bulan tersebut adalah Rp 13.500.000.

Analisis Tren Biaya Tidak Tetap dari Waktu ke Waktu

Untuk menganalisis tren, perusahaan perlu mencatat biaya tidak tetap setiap bulan selama periode tertentu, misalnya selama satu tahun. Data ini kemudian dapat diplot dalam grafik untuk melihat pola. Tren naik menunjukkan peningkatan biaya, yang mungkin menandakan perlu adanya efisiensi. Tren turun menunjukkan penghematan biaya, yang patut dijaga dan dipelajari keberhasilannya. Analisis ini membantu dalam perencanaan anggaran dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Analisis Break-Even Point dengan Mempertimbangkan Biaya Tidak Tetap, Pengertian biaya tidak tetap

Break-even point (BEP) adalah titik di mana pendapatan sama dengan total biaya (tetap dan tidak tetap). Rumus BEP adalah: BEP (unit) = (Biaya Tetap) / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit). Dalam kasus perusahaan konsultan, biaya tetap mungkin meliputi sewa kantor dan gaji karyawan tetap. Biaya variabel meliputi biaya perjalanan dan lembur (biaya tidak tetap) yang bervariasi sesuai jumlah proyek.

Untuk menghitung BEP, perusahaan perlu memperkirakan biaya tetap, harga jual per proyek, dan biaya variabel per proyek, termasuk komponen biaya tidak tetapnya.

Perhitungan Contribution Margin dengan Memperhitungkan Biaya Tidak Tetap

Contribution margin adalah selisih antara pendapatan dan biaya variabel. Rumus contribution margin adalah: Contribution Margin = Pendapatan – Biaya Variabel. Biaya variabel di sini mencakup semua biaya yang berubah seiring dengan volume penjualan atau produksi, termasuk biaya tidak tetap. Dengan menghitung contribution margin, perusahaan dapat melihat seberapa besar kontribusi setiap proyek terhadap penutupan biaya tetap dan keuntungan.

Analisis ini sangat penting untuk menentukan proyek mana yang paling menguntungkan dan mana yang perlu dievaluasi kembali.

Penting untuk diingat bahwa pemantauan dan pengendalian biaya tidak tetap secara berkala adalah kunci keberhasilan bisnis. Dengan mengidentifikasi dan mengelola biaya-biaya ini secara efektif, perusahaan dapat meningkatkan profitabilitas dan daya saingnya di pasar yang kompetitif. Ketepatan dan konsistensi dalam pencatatan sangatlah penting.

Artikel Terkait