Total fixed cost adalah biaya tetap perusahaan

Aurora June 1, 2025

Total fixed cost adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan perusahaan, tak peduli seberapa banyak produksi yang dihasilkan. Bayangkan sebuah kafe mungil di sudut kota: sewa tempat, gaji karyawan tetap, dan biaya listrik tetap merupakan contohnya. Biaya-biaya ini tetap ada, meski kafe hanya menjual sepuluh cangkir kopi atau seratus cangkir kopi dalam sehari. Ini berbeda dengan biaya variabel, seperti biaya bahan baku kopi dan gula, yang berubah sesuai jumlah kopi yang terjual.

Memahami total fixed cost sangat krusial bagi setiap bisnis, karena pengaruhnya signifikan terhadap profitabilitas dan pengambilan keputusan strategis. Mengelola biaya tetap secara efektif adalah kunci keberhasilan bisnis di tengah persaingan yang ketat. Dari usaha mikro hingga korporasi besar, pemahaman menyeluruh tentang total fixed cost merupakan keharusan untuk mencapai keberlanjutan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Total fixed cost (TFC) merupakan elemen penting dalam akuntansi dan manajemen keuangan. Ia mewakili semua pengeluaran bisnis yang tidak berubah, terlepas dari tingkat output produksi atau penjualan. Ini termasuk biaya sewa, gaji karyawan tetap, asuransi, dan depresiasi aset tetap. Berbeda dengan biaya variabel (TVC) yang berfluktuasi sesuai volume produksi, TFC tetap konstan dalam jangka pendek.

Memahami perbedaan antara TFC, TVC, dan total cost (TC) sangat penting untuk menganalisis profitabilitas dan membuat keputusan bisnis yang tepat. Perhitungan yang akurat dan pemahaman yang mendalam tentang TFC akan membantu bisnis dalam menentukan titik impas (break-even point) dan merencanakan strategi harga yang kompetitif.

Pengertian Total Fixed Cost: Total Fixed Cost Adalah

Total Fixed Cost (TFC) merupakan biaya produksi yang nilainya tetap, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume produksi dalam jangka pendek. Bayangkan Anda membuka toko kue: sewa tempat, gaji karyawan tetap, dan biaya asuransi tetap sama, baik Anda menjual 10 kue atau 1000 kue dalam sebulan. Ini inti dari TFC—biaya yang konstan, tak peduli seberapa besar usaha Anda berproduksi.

Memahami TFC krusial bagi perencanaan keuangan bisnis, membantu Anda memprediksi profitabilitas dan membuat keputusan strategis yang tepat.

Contoh Biaya Total Fixed Cost

Biaya tetap meliputi berbagai pos pengeluaran. Sebagai contoh, sewa pabrik atau kantor merupakan komponen utama TFC. Bayangkan biaya listrik untuk penerangan kantor yang tetap, meskipun produksi menurun. Gaji karyawan tetap, seperti manajer produksi atau staf administrasi, juga termasuk di dalamnya. Biaya penyusutan aset tetap, seperti mesin produksi, juga merupakan bagian dari TFC, mencerminkan penurunan nilai aset tersebut seiring waktu.

Asuransi properti dan kewajiban bisnis, meskipun tampak kecil, merupakan komponen penting TFC yang wajib dipertimbangkan. Bahkan biaya izin usaha atau lisensi yang bersifat tahunan termasuk dalam kategori ini. Perlu diingat, meski tampak sepele, biaya-biaya tetap ini akan berakumulasi dan berdampak signifikan terhadap keuangan bisnis Anda.

Perbandingan TFC, TVC, dan TC

Total Fixed Cost (TFC) berbeda dengan Total Variable Cost (TVC) dan Total Cost (TC). TVC merupakan biaya yang berubah sesuai dengan tingkat produksi, seperti bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Sementara itu, TC adalah total keseluruhan biaya produksi, yang merupakan penjumlahan TFC dan TVC. Bayangkan membuat kue lagi: bahan baku seperti tepung dan gula (TVC) akan meningkat seiring jumlah kue yang dibuat, sementara sewa tempat (TFC) tetap sama.

TC adalah total pengeluaran untuk semua biaya, tetap dan variabel. Memahami perbedaan ini penting untuk analisis biaya produksi yang akurat dan pengambilan keputusan bisnis yang efektif. Menentukan titik impas, misalnya, memerlukan pemahaman yang baik tentang hubungan antara ketiga komponen biaya ini.

Total fixed cost adalah biaya tetap yang tak bergantung pada volume produksi. Memahami ini krusial, terutama saat merancang bisnis, karena pengeluaran ini tetap ada, meski produksi nol. Sebelum memulai usaha, perencanaan matang sangat penting, termasuk mengerti bagaimana mengolah biaya tetap ini. Misalnya, dalam kesepakatan contoh surat perjanjian kerjasama , harus jelas bagaimana pembagian tanggung jawab biaya tetap, agar tidak ada salah paham di kemudian hari.

Dengan begitu, pengelolaan total fixed cost akan lebih terarah dan efisien, menghindari potensi kerugian yang tak terduga.

Tabel Perbandingan TFC, TVC, dan TC

Berikut tabel perbandingan TFC, TVC, dan TC dengan tiga contoh biaya:

Jenis BiayaSewa PabrikBahan BakuGaji Karyawan Produksi (harian)
Total Fixed Cost (TFC)Rp 10.000.000
Total Variable Cost (TVC)Rp 5.000.000Rp 2.000.000
Total Cost (TC)Rp 10.000.000Rp 5.000.000Rp 2.000.000

Catatan: Angka dalam tabel merupakan ilustrasi dan dapat bervariasi tergantung pada skala bisnis dan jenis industri.

Contoh Kasus Perusahaan Manufaktur

Perusahaan manufaktur sepatu “Sepatu Jaya” menyewa pabrik seharga Rp 20.000.000 per bulan. Gaji manajer produksi tetap sebesar Rp 15.000.000 per bulan. Biaya listrik untuk penerangan pabrik sebesar Rp 5.000.000 per bulan. Semua biaya ini merupakan TFC, tidak berubah meskipun Sepatu Jaya memproduksi 1000 pasang sepatu atau 10.000 pasang sepatu. Namun, biaya bahan baku kulit, upah buruh produksi, dan biaya energi untuk mesin produksi akan berubah sesuai jumlah sepatu yang diproduksi, termasuk dalam TVC.

Dengan memahami TFC, Sepatu Jaya dapat merencanakan produksi dan penjualan secara lebih efektif, memperhitungkan biaya tetap dalam menentukan harga jual dan titik impas. Jika produksi menurun, TFC tetap harus dibayarkan, menekankan pentingnya manajemen biaya yang efisien.

Karakteristik Total Fixed Cost

Total fixed cost adalah biaya tetap perusahaan

Total Fixed Cost (TFC) atau biaya tetap total merupakan elemen penting dalam analisis biaya produksi. Memahami karakteristiknya krusial bagi setiap pelaku bisnis, dari UMKM hingga korporasi besar, untuk merencanakan strategi keuangan dan pengambilan keputusan yang tepat. Dengan memahami TFC, kita bisa lebih bijak dalam mengelola sumber daya dan memaksimalkan profitabilitas.

TFC, seperti namanya, adalah biaya yang tetap jumlahnya meskipun terjadi perubahan pada tingkat produksi. Ini berbeda dengan biaya variabel yang berubah seiring naik turunnya volume produksi. Konsistensi inilah yang menjadi ciri khas dan sekaligus tantangan dalam mengelola TFC.

TFC Tetap Konstan dalam Jangka Pendek, Total fixed cost adalah

Sifat TFC yang konstan dalam jangka pendek disebabkan oleh keterbatasan waktu untuk menyesuaikan elemen-elemen biaya tetap. Bayangkan sebuah pabrik dengan mesin-mesin produksi. Biaya sewa pabrik, depresiasi mesin, dan gaji karyawan tetap (yang tidak bergantung pada jumlah produksi) tetap harus dibayarkan, berapapun jumlah produk yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu, misalnya satu bulan. Inilah yang menyebabkan TFC tetap konstan meskipun produksi meningkat atau menurun.

Implikasi TFC Konstan terhadap Pengambilan Keputusan Bisnis

Konstannya TFC memiliki implikasi signifikan pada strategi bisnis. Karena biaya ini harus dikeluarkan terlepas dari volume produksi, perusahaan perlu mencapai tingkat produksi tertentu agar bisa menutup biaya tetap dan mulai memperoleh keuntungan. Analisis break-even point (BEP) sangat penting dalam hal ini, membantu menentukan titik impas di mana pendapatan sama dengan total biaya (termasuk TFC dan biaya variabel).

Total fixed cost adalah biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan, tak peduli berapa banyak barang yang diproduksi. Bayangkan, sebuah bisnis ritel seperti mr diy itu apa , pasti punya biaya sewa toko dan gaji karyawan tetap, meski penjualan sedang lesu. Itulah inti dari total fixed cost; biaya yang tetap ada meskipun aktivitas produksi atau penjualan berubah.

Jadi, memahami total fixed cost penting untuk perencanaan keuangan bisnis, termasuk bagaimana strategi pengeluaran dijalankan agar tetap efisien dan menguntungkan.

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan TFC saat menentukan harga jual produk. Harga jual harus mampu menutup seluruh biaya, termasuk TFC, agar bisnis tetap berkelanjutan. Strategi penetapan harga yang tepat sangat bergantung pada pemahaman yang mendalam tentang TFC dan bagaimana mengoptimalkannya.

Total fixed cost adalah biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan, tak peduli berapa banyak produk yang dihasilkan. Bayangkan, sebuah perusahaan kosmetik besar, yang mungkin menggunakan beberapa brand skin care terbaik di dunia sebagai bahan baku, tetap harus membayar sewa pabrik dan gaji karyawan tetap meskipun penjualannya sedang lesu. Artinya, meski produknya laris manis atau sepi pembeli, total fixed cost tetap harus dikeluarkan.

Ini merupakan komponen penting dalam analisis keuangan perusahaan, menentukan profitabilitas dan strategi bisnis jangka panjang. Jadi, memahami total fixed cost adalah kunci untuk mengelola bisnis secara efektif.

Perubahan Skala Produksi dan TFC dalam Jangka Panjang

Berbeda dengan jangka pendek, dalam jangka panjang, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengubah elemen-elemen biaya tetap. Jika perusahaan ingin meningkatkan skala produksi secara signifikan, mereka mungkin perlu menyewa pabrik yang lebih besar, membeli mesin baru, atau merekrut lebih banyak karyawan tetap. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan TFC. Sebaliknya, jika perusahaan mengurangi skala produksi, mereka mungkin bisa mengurangi TFC dengan cara mengurangi luas area sewa atau menjual beberapa mesin.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan manufaktur pakaian awalnya beroperasi di sebuah gudang kecil. Ketika permintaan meningkat pesat, mereka memutuskan untuk pindah ke pabrik yang lebih besar, yang otomatis meningkatkan biaya sewa dan utilitas (listrik, air, dll.). Ini adalah contoh bagaimana perubahan skala produksi berpengaruh pada TFC dalam jangka panjang. Keputusan untuk ekspansi ini harus dipertimbangkan dengan cermat, memperhitungkan peningkatan TFC dan potensi peningkatan pendapatan yang akan didapatkan.

Hubungan Tingkat Produksi dan TFC

Hubungan antara tingkat produksi dan TFC dapat digambarkan dengan sebuah diagram garis horizontal. Sumbu X mewakili tingkat produksi, dan sumbu Y mewakili TFC. Garis horizontal menunjukkan bahwa TFC tetap konstan, berapapun tingkat produksi yang dicapai dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, garis tersebut akan berubah menjadi garis yang naik atau turun tergantung pada keputusan perusahaan untuk mengubah skala produksi.

Bayangkan garis horizontal datar yang mewakili TFC tetap sebesar Rp 100 juta. Meskipun produksi meningkat dari 1000 unit menjadi 5000 unit, TFC tetap Rp 100 juta. Namun, jika perusahaan meningkatkan kapasitas produksi dalam jangka panjang, misalnya dengan menambah mesin, maka garis horizontal akan bergeser ke atas, misalnya menjadi Rp 150 juta, mencerminkan peningkatan TFC.

Perhitungan Total Fixed Cost

Total Fixed Cost (TFC) atau Biaya Tetap Total merupakan komponen penting dalam analisis biaya bisnis. Memahami perhitungan TFC sangat krusial bagi pengusaha, baik skala kecil maupun besar, untuk merencanakan anggaran, menentukan harga jual, dan mengukur profitabilitas. Kemampuan mengkalkulasi TFC secara akurat akan memberikan gambaran yang jelas tentang struktur biaya perusahaan dan membantu pengambilan keputusan yang lebih efektif.

Total fixed cost adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan bisnis, tak peduli berapa banyak produksi. Memahami ini krusial, terutama bagi pengusaha muda di Indonesia yang tengah merintis usaha. Mereka perlu cermat dalam mengelola biaya tetap seperti sewa tempat dan gaji karyawan agar tetap efisien. Pengendalian total fixed cost yang efektif akan berdampak langsung pada profitabilitas usaha, menentukan keberhasilan jangka panjang bagi para pebisnis muda yang penuh semangat dan inovasi.

Jadi, menguasai perhitungan total fixed cost adalah kunci sukses berbisnis.

Tanpa pemahaman yang tepat, bisnis bisa terjebak dalam jebakan keuangan yang tak terduga.

TFC merupakan biaya yang tetap sama meskipun volume produksi berubah. Ini berbeda dengan biaya variabel yang fluktuatif seiring peningkatan atau penurunan produksi. Dengan kata lain, biaya tetap ini akan terus dikeluarkan perusahaan terlepas dari seberapa banyak barang atau jasa yang diproduksi. Mari kita bahas lebih dalam tentang bagaimana menghitung TFC dan penerapannya dalam berbagai jenis bisnis.

Cara Menghitung Total Fixed Cost

Menghitung TFC terbilang sederhana, yaitu dengan menjumlahkan semua biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan dalam periode tertentu. Langkah-langkahnya tergolong mudah dipahami dan diaplikasikan, bahkan bagi Anda yang awam dalam akuntansi. Ketelitian dan pemahaman yang komprehensif tentang jenis-jenis biaya tetap menjadi kunci keberhasilan perhitungan ini.

  1. Identifikasi semua biaya tetap. Contohnya: sewa tempat usaha, gaji karyawan tetap, biaya asuransi, biaya depresiasi peralatan, dan cicilan pinjaman.
  2. Kumpulkan data biaya tetap untuk periode tertentu (misalnya, bulanan atau tahunan).
  3. Jumlahkan semua biaya tetap yang telah diidentifikasi.

Rumus TFC: TFC = Σ (Semua Biaya Tetap)

Contoh Perhitungan TFC untuk Bisnis Jasa dan Manufaktur

Mari kita ilustrasikan perhitungan TFC dengan contoh nyata. Contoh ini akan menunjukkan bagaimana perhitungan TFC diterapkan dalam bisnis jasa dan manufaktur, menunjukkan fleksibilitas dan penerapannya yang luas dalam dunia bisnis.

Contoh Bisnis Jasa (Konsultan Keuangan):

  • Sewa kantor: Rp 5.000.000
  • Gaji asisten: Rp 4.000.000
  • Biaya utilitas (listrik, air, internet): Rp 1.000.000
  • Biaya telepon dan internet: Rp 500.000

Total Fixed Cost (TFC) = Rp 5.000.000 + Rp 4.000.000 + Rp 1.000.000 + Rp 500.000 = Rp 10.500.000

Contoh Bisnis Manufaktur (Produksi Kue):

Total fixed cost adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan bisnis, tak peduli berapa banyak produksi. Ini penting dipahami, terutama bagi Anda yang berencana menjadi freelancer, karena memahami apa saja pekerjaan freelance yang cocok dan menghitung biaya tetap seperti peralatan dan langganan software sangat krusial untuk keberhasilan usaha Anda. Dengan mengelola total fixed cost secara efektif, freelancer dapat menentukan harga jasa yang kompetitif sekaligus memastikan profitabilitas usaha.

Perencanaan keuangan yang matang, termasuk mengontrol total fixed cost, menjadi kunci utama dalam perjalanan karier freelance yang sukses.

  • Sewa pabrik: Rp 10.000.000
  • Gaji karyawan tetap (produksi dan administrasi): Rp 15.000.000
  • Biaya depresiasi mesin: Rp 2.000.000
  • Biaya asuransi pabrik: Rp 1.000.000

Total Fixed Cost (TFC) = Rp 10.000.000 + Rp 15.000.000 + Rp 2.000.000 + Rp 1.000.000 = Rp 28.000.000

Tabel Perhitungan TFC untuk Berbagai Tingkat Produksi

Meskipun TFC tetap konstan, melihatnya dalam konteks berbagai tingkat produksi memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Tabel berikut menggambarkan hal tersebut.

Tingkat Produksi (unit)Total Fixed Cost (Rp)Fixed Cost per Unit (Rp)
10020.000.000200.000
20020.000.000100.000
30020.000.00066.667
40020.000.00050.000

Perhatikan bahwa meskipun TFC tetap Rp 20.000.000, biaya tetap per unit menurun seiring peningkatan produksi. Ini menunjukkan pentingnya skala ekonomi dalam mengurangi biaya produksi.

Pengaruh Total Fixed Cost terhadap Keuntungan

Economics managerial fixed

Total Fixed Cost (TFC) atau biaya tetap total merupakan elemen krusial dalam menentukan profitabilitas sebuah bisnis. Memahami bagaimana TFC berinteraksi dengan tingkat produksi dan pendapatan sangat penting bagi setiap pelaku usaha, mulai dari pengusaha UMKM hingga korporasi besar. Pengaruhnya yang signifikan terhadap titik impas dan keuntungan secara keseluruhan tidak bisa diabaikan. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana TFC membentuk lanskap finansial perusahaan.

TFC, yang meliputi biaya sewa, gaji manajemen, depresiasi aset, dan biaya tetap lainnya, tidak berubah meskipun volume produksi naik atau turun. Ini menciptakan dinamika unik dalam perhitungan keuntungan. Perusahaan dengan TFC tinggi akan membutuhkan volume penjualan yang lebih besar untuk mencapai titik impas dan meraih profitabilitas yang signifikan dibandingkan perusahaan dengan TFC rendah. Namun, begitu titik impas terlampaui, peningkatan produksi akan berdampak lebih besar pada keuntungan karena biaya tetap sudah teralokasi.

Pengaruh TFC terhadap Titik Impas (Break-Even Point)

Titik impas merupakan titik di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak untung maupun rugi. TFC memainkan peran utama dalam menentukan titik impas ini. Semakin tinggi TFC, semakin tinggi pula volume penjualan yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah restoran dengan sewa tempat yang mahal (TFC tinggi). Restoran tersebut harus menjual lebih banyak makanan dibandingkan restoran dengan sewa tempat yang lebih rendah untuk menutupi biaya tetapnya dan mencapai titik impas.

Rumusnya sederhana: Titik Impas (dalam unit) = TFC / (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit).

Pengaruh TFC terhadap Profitabilitas pada Berbagai Tingkat Produksi

Profitabilitas perusahaan dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi antara TFC dan tingkat produksi. Pada tingkat produksi rendah, TFC akan membebani biaya per unit, sehingga profitabilitas rendah atau bahkan merugi. Sebaliknya, pada tingkat produksi tinggi, TFC terbagi atas lebih banyak unit, sehingga biaya per unit turun dan profitabilitas meningkat. Sebuah perusahaan manufaktur dengan kapasitas produksi besar akan lebih mampu menyerap TFC yang tinggi dibandingkan perusahaan berskala kecil.

Ini karena biaya tetap tersebut dibagi rata ke lebih banyak unit produk.

Strategi Pengelolaan TFC untuk Meningkatkan Profitabilitas

Pengelolaan TFC yang efektif sangat krusial untuk meningkatkan profitabilitas. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain: negosiasi ulang kontrak sewa untuk mendapatkan harga yang lebih rendah, efisiensi operasional untuk mengurangi biaya tetap lainnya, dan optimasi penggunaan aset untuk meminimalkan depresiasi. Pilihan teknologi yang tepat juga dapat membantu mengurangi TFC dalam jangka panjang. Misalnya, otomatisasi produksi dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan biaya terkait.

Hubungan TFC, Tingkat Produksi, dan Keuntungan: Sebuah Ilustrasi

Berikut ilustrasi grafik hubungan antara TFC, tingkat produksi, dan keuntungan. Bayangkan sebuah garis horizontal mewakili TFC yang konstan. Garis pendapatan (revenue) akan naik seiring peningkatan produksi. Keuntungan (profit) adalah selisih antara garis pendapatan dan garis TFC. Pada tingkat produksi rendah, keuntungan rendah atau bahkan negatif.

Seiring peningkatan produksi, keuntungan meningkat secara signifikan, menunjukkan efektivitas penyebaran TFC.

Tingkat Produksi (Unit)Total PendapatanTotal Biaya VariabelTotal Biaya (TFC + Biaya Variabel)Keuntungan
100100050010000
200200010001500500
3003000150020001000

Total Fixed Cost, meskipun konstan, memiliki pengaruh besar terhadap titik impas dan profitabilitas. Pengelolaan TFC yang efektif merupakan kunci keberhasilan bisnis dalam jangka panjang. Keputusan strategis terkait investasi, teknologi, dan skala operasional harus mempertimbangkan dampak TFC secara menyeluruh.

Total Fixed Cost dalam Berbagai Jenis Bisnis

Memahami total fixed cost (TFC) sangat krusial bagi setiap pelaku bisnis, entah itu pengusaha UMKM yang baru merintis usaha rumahannya hingga korporasi besar. TFC, biaya tetap yang tak berubah meski produksi naik-turun, mempengaruhi profitabilitas dan strategi bisnis jangka panjang. Mengetahui seluk-beluk TFC di berbagai sektor bisnis membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat dan terukur, menghindari jebakan keuangan yang bisa menghambat pertumbuhan usaha.

Perhitungan TFC pada Bisnis Ritel, Restoran, dan Manufaktur

Mari kita telusuri bagaimana TFC dihitung dalam tiga jenis bisnis yang berbeda. Contoh-contoh perhitungan ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana biaya tetap memengaruhi operasional bisnis.

Bisnis Ritel: Bayangkan sebuah toko pakaian kecil. TFC-nya mencakup sewa toko, gaji karyawan tetap (misalnya, manajer toko), biaya utilitas (listrik, air), dan asuransi. Jika toko tersebut menjual 100 baju atau 1000 baju, biaya-biaya ini tetap sama. Misalnya, sewa toko Rp 5 juta/bulan, gaji manajer Rp 8 juta/bulan, listrik Rp 1 juta/bulan, dan asuransi Rp 500.000/bulan. Total TFC-nya adalah Rp 14,5 juta/bulan.

Bisnis Restoran: Sebuah restoran kecil memiliki TFC yang meliputi sewa tempat, gaji koki dan pelayan tetap, biaya penyusutan peralatan dapur, dan iuran kebersihan. Katakanlah sewa Rp 7 juta/bulan, gaji karyawan tetap Rp 15 juta/bulan, penyusutan peralatan Rp 1 juta/bulan, dan iuran kebersihan Rp 500.000/bulan. Maka TFC restoran tersebut adalah Rp 23,5 juta/bulan. Perlu diingat, biaya bahan baku (makanan dan minuman) bukan termasuk TFC karena merupakan biaya variabel.

Bisnis Manufaktur: Pabrik kecil yang memproduksi sepatu memiliki TFC yang jauh lebih kompleks. Biaya sewa pabrik, gaji karyawan tetap (manajer produksi, teknisi), biaya depresiasi mesin produksi, dan biaya asuransi pabrik adalah contohnya. Misalnya, sewa pabrik Rp 10 juta/bulan, gaji karyawan tetap Rp 20 juta/bulan, depresiasi mesin Rp 2 juta/bulan, dan asuransi Rp 1 juta/bulan. Total TFC pabrik tersebut mencapai Rp 33 juta/bulan.

Artikel Terkait