Unilever itu milik siapa? Pertanyaan sederhana ini menyimpan jawaban yang kompleks dan menarik. Raksasa barang konsumsi global ini bukan milik satu entitas tunggal, melainkan dimiliki oleh jutaan pemegang saham di seluruh dunia, termasuk institusi keuangan raksasa dan investor individu. Sejarah panjang Unilever, dibangun melalui serangkaian merger dan akuisisi strategis, telah membentuk struktur kepemilikan yang unik dan dinamis.
Bagaimana struktur ini memengaruhi strategi bisnis, pengambilan keputusan, dan bahkan produk yang kita konsumsi sehari-hari? Mari kita telusuri perjalanan menarik di balik merek-merek ikonik yang kita kenal dan cintai.
Struktur kepemilikan Unilever terbagi dalam berbagai kelas saham, tersebar di bursa-bursa saham internasional. Ada pemegang saham mayoritas, ada pula yang minoritas, semuanya memiliki pengaruh terhadap arah perusahaan. Sejarah panjang perusahaan ini, mulai dari dua perusahaan sabun yang bergabung, hingga menjadi konglomerat global, menunjukkan bagaimana kepemilikan saham telah berevolusi seiring waktu. Perubahan-perubahan ini, dari merger hingga akuisisi, mencerminkan dinamika pasar global dan strategi bisnis Unilever dalam menghadapi persaingan.
Memahami struktur kepemilikan ini membuka jendela ke dunia bisnis yang kompleks dan menarik, menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan raksasa beroperasi dan dipengaruhi oleh para pemegang sahamnya.
Struktur Kepemilikan Unilever

Unilever, raksasa barang konsumsi global, memiliki struktur kepemilikan yang kompleks dan tersebar luas di berbagai bursa saham dunia. Memahami struktur ini penting untuk memahami dinamika perusahaan dan pengaruh berbagai pihak yang berkepentingan. Pemahaman yang komprehensif tentang siapa yang memegang kendali atas Unilever memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah strategis perusahaan dan potensi dampaknya terhadap pasar.
Saham Unilever diperdagangkan di berbagai bursa saham utama di dunia, termasuk London Stock Exchange dan Euronext Amsterdam. Hal ini mencerminkan skala global perusahaan dan aksesibilitasnya bagi investor internasional. Namun, distribusi kepemilikan saham ini tidak merata dan terkonsentrasi pada beberapa pemegang saham utama, baik institusional maupun publik. Kompleksitas ini menjadikan Unilever sebagai studi kasus menarik mengenai bagaimana perusahaan multinasional mengelola kepemilikan sahamnya secara global.
Distribusi Saham Unilever di Bursa Saham Dunia
Saham Unilever terdaftar di beberapa bursa saham terkemuka di dunia, memastikan likuiditas dan aksesibilitas bagi investor global. Ini juga memfasilitasi perdagangan yang efisien dan transparansi dalam kepemilikan saham. Namun, proporsi kepemilikan di masing-masing bursa bervariasi, mencerminkan minat investor di berbagai wilayah geografis. Beberapa bursa mungkin memiliki volume perdagangan yang lebih tinggi dibandingkan lainnya, tergantung pada preferensi dan regulasi investasi di setiap negara.
Pemegang Saham Utama Unilever
Struktur kepemilikan Unilever didominasi oleh berbagai jenis pemegang saham, mulai dari investor institusional besar hingga investor individu. Memahami komposisi ini krusial untuk menilai stabilitas dan arah strategi perusahaan jangka panjang. Proporsi kepemilikan yang terkonsentrasi pada beberapa entitas dapat memberi mereka pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan perusahaan.
Unilever, raksasa barang konsumen, sahamnya tersebar luas dan tak dimiliki satu entitas tunggal. Struktur kepemilikannya kompleks, melibatkan banyak pemegang saham di seluruh dunia. Berbeda dengan kepemilikan yang lebih terpusat, misalnya, kita bisa menilik rumah sakit Hermina tipe apa yang mungkin punya struktur kepemilikan yang lebih jelas. Kembali ke Unilever, memahami struktur kepemilikannya memerlukan riset mendalam karena melibatkan berbagai instrumen investasi dan portofolio global.
Jadi, pertanyaan “Unilever itu milik siapa?” tak punya jawaban sederhana.
| Jenis Pemegang Saham | Contoh Pemegang Saham | Perkiraan Proporsi Kepemilikan (%) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Institusional | Dana pensiun, perusahaan investasi, manajer aset | 50-60% | Kepemilikan terkonsentrasi di tangan beberapa institusi besar. |
| Publik | Investor individu | 30-40% | Tersebar luas di antara banyak investor individu di berbagai negara. |
| Insider | Direksi dan manajemen Unilever | <1% | Kepemilikan oleh pihak internal relatif kecil. |
| Lainnya | Pemerintah, organisasi lain | <10% | Meliputi berbagai entitas dengan kepemilikan minoritas. |
Gambaran Visual Kepemilikan Saham Unilever
Bayangkan sebuah lingkaran yang mewakili 100% kepemilikan saham Unilever. Sebagian besar lingkaran (sekitar 50-60%) akan terbagi menjadi beberapa irisan besar yang mewakili kepemilikan investor institusional. Kemudian, sebagian besar sisanya (sekitar 30-40%) akan terbagi menjadi ribuan irisan kecil yang mewakili kepemilikan investor publik. Irisan kecil lainnya mewakili kepemilikan insider dan entitas lainnya, yang secara keseluruhan hanya mencakup sebagian kecil dari lingkaran tersebut.
Ilustrasi ini menunjukkan konsentrasi kepemilikan di tangan beberapa institusi besar, sementara sebagian besar sisanya terdistribusi secara luas di antara investor individu.
Sejarah Unilever dan Perkembangan Kepemilikannya
Kisah Unilever adalah sebuah saga bisnis global yang panjang dan menarik, diwarnai oleh merger, akuisisi, dan evolusi strategi yang membentuk raksasa FMCG seperti yang kita kenal sekarang. Perjalanan ini bukan hanya tentang pertumbuhan finansial, tetapi juga tentang bagaimana sebuah perusahaan beradaptasi dengan perubahan zaman dan tren konsumen yang dinamis. Dari dua perusahaan kecil di Eropa hingga menjadi konglomerat multinasional, Unilever menawarkan studi kasus yang kaya akan pelajaran berharga bagi dunia bisnis.
Berdirinya Unilever dan Tahap Awal
Unilever lahir dari penggabungan dua perusahaan besar, Margarine Unie (Belanda) dan Lever Brothers (Inggris), pada tahun 1930. Sebelum merger monumental ini, kedua perusahaan telah membangun reputasi yang kuat di industri masing-masing. Margarine Unie, didirikan pada tahun 1873, dikenal dengan inovasi dalam produksi margarin, sementara Lever Brothers, berdiri sejak 1885, sukses besar dengan sabun Sunlight. Penggabungan ini menandai awal dari sebuah kerajaan bisnis global yang akan terus berkembang selama berpuluh-puluh tahun berikutnya.
Struktur kepemilikan awal mencerminkan kepemilikan saham yang terbagi antara pemegang saham dari kedua perusahaan pendahulu. Ini adalah fondasi yang meletakkan dasar bagi ekspansi dan diversifikasi Unilever di masa depan.
Unilever, raksasa barang konsumen global, sebenarnya adalah perusahaan publik dengan saham yang dimiliki oleh banyak investor di seluruh dunia. Bukan milik satu orang atau keluarga tertentu. Bicara soal kepemilikan yang kompleks, menarik untuk membandingkannya dengan struktur bisnis keluarga, misalnya seperti yang dikelola anak-anak Ust Yusuf Mansur, yang kisahnya bisa Anda baca lebih lanjut di anak ust yusuf mansur.
Berbeda dengan Unilever yang transparan dalam hal kepemilikan sahamnya, struktur bisnis keluarga seringkali lebih dinamis dan kompleks. Intinya, mencari siapa pemilik tunggal Unilever ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, karena kepemilikannya tersebar luas di pasar modal internasional.
Pengaruh Kepemilikan terhadap Strategi Bisnis Unilever: Unilever Itu Milik Siapa
Struktur kepemilikan Unilever, sebagai perusahaan multinasional raksasa, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan strategis dan arah bisnisnya. Kepemilikan saham yang terdistribusi luas, dikombinasikan dengan pengaruh investor institusional, membentuk lanskap dinamis yang memengaruhi kinerja keuangan dan investasi perusahaan. Memahami dinamika ini penting untuk mengungkap bagaimana Unilever beroperasi dan beradaptasi di pasar global yang kompetitif.
Model kepemilikan Unilever yang kompleks, melibatkan beragam pemegang saham, dari individu hingga lembaga keuangan besar, menciptakan keseimbangan kekuatan yang unik. Hal ini berdampak pada strategi bisnis yang dijalankan, mulai dari inovasi produk hingga ekspansi pasar. Analisis lebih lanjut akan mengungkap bagaimana struktur ini membentuk jalannya perusahaan.
Unilever, raksasa barang konsumen global, sebenarnya dimiliki oleh jutaan pemegang saham di seluruh dunia, bukan satu entitas tunggal. Nah, bicara soal kepemilikan luas, bayangkan skala bisnis sebesar Unilever yang juga perlu strategi distribusi yang efektif, seperti yang ditawarkan oleh layanan shop and drive solo untuk efisiensi operasional. Kembali ke Unilever, struktur kepemilikan yang terdiversifikasi ini menunjukkan kekuatan dan stabilitas perusahaan, sekaligus mencerminkan jangkauan global bisnisnya yang begitu besar.
Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Pengambilan Keputusan Strategis
Struktur kepemilikan Unilever yang tersebar luas, dengan tidak adanya pemegang saham mayoritas tunggal, mendorong konsensus dan negosiasi dalam pengambilan keputusan strategis. Proses ini dapat memakan waktu lebih lama, namun cenderung menghasilkan strategi yang lebih seimbang dan berkelanjutan, mempertimbangkan berbagai perspektif dan kepentingan. Sebaliknya, jika terdapat pemegang saham mayoritas yang dominan, pengambilan keputusan dapat lebih cepat, tetapi berisiko lebih terfokus pada kepentingan jangka pendek pemegang saham tersebut.
Hal ini tercermin dalam kebijakan dividen dan alokasi sumber daya yang diputuskan.
Unilever, raksasa FMCG global, sahamnya tersebar luas di tangan banyak investor individu dan institusional, bukan milik satu orang atau entitas tunggal. Bicara kepemilikan, memang menarik untuk membandingkannya dengan model bisnis waralaba makanan seperti hoka hoka bento jepang yang memiliki struktur kepemilikan yang berbeda. Kembali ke Unilever, kompleksitas struktur kepemilikan ini justru menjadi daya tahan perusahaan menghadapi dinamika pasar.
Jadi, pertanyaan “Unilever itu milik siapa?” tak punya jawaban sederhana, melainkan gambaran kompleks portofolio saham yang luas.
Dampak Kepemilikan Saham yang Terdistribusi Luas terhadap Arah Bisnis, Unilever itu milik siapa
Kepemilikan saham yang terdistribusi luas di Unilever menghasilkan tekanan yang seimbang dari berbagai pihak yang berkepentingan. Investor individu cenderung lebih fokus pada kinerja keuangan jangka pendek dan dividen, sementara investor institusional mungkin memiliki pandangan jangka panjang dan lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Kombinasi tekanan ini mendorong Unilever untuk menyeimbangkan profitabilitas dengan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Unilever, raksasa barang konsumsi global itu, milik jutaan pemegang saham di seluruh dunia, bukan individu tunggal. Bicara kepemilikan saham, investasi seluas itu menarik untuk dianalogikan dengan memilih tempat liburan; misalnya, mencari hotel di Surabaya yang nyaman, mungkin yang punya kolam renang seperti yang direkomendasikan di hotel surabaya ada kolam renang.
Kembali ke Unilever, struktur kepemilikan yang terdiversifikasi ini menunjukkan kekuatan dan stabilitas perusahaan, jauh berbeda dengan model kepemilikan tunggal yang rentan terhadap risiko pribadi. Jadi, pertanyaan “unilever itu milik siapa?” jawabannya adalah milik banyak orang, sebuah jejaring investasi yang luas dan kompleks.
Hal ini terlihat dari komitmen Unilever terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Dampak Kepemilikan Saham oleh Investor Institusional terhadap Kinerja Keuangan
Investor institusional, seperti dana pensiun dan perusahaan manajemen aset, memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan Unilever. Mereka sering kali memiliki tim analisis yang terlatih untuk menilai kinerja perusahaan dan memberikan tekanan untuk meningkatkan efisiensi, profitabilitas, dan transparansi. Investasi mereka juga dapat memberikan akses ke modal yang dibutuhkan untuk inovasi dan ekspansi. Namun, tekanan dari investor institusional juga dapat menyebabkan fokus yang berlebihan pada kinerja keuangan jangka pendek, yang berpotensi mengabaikan investasi jangka panjang yang penting.
Skenario Hipotetis Perubahan Struktur Kepemilikan dan Dampaknya terhadap Strategi Unilever
Bayangkan skenario di mana sebuah perusahaan investasi besar mengakuisisi saham mayoritas Unilever. Perubahan ini berpotensi mengubah arah strategi bisnis perusahaan. Prioritas mungkin bergeser ke peningkatan profitabilitas jangka pendek, dengan pengurangan investasi dalam inovasi atau keberlanjutan. Sebaliknya, jika kelompok investor yang fokus pada ESG mendapatkan pengaruh yang lebih besar, Unilever mungkin akan lebih memprioritaskan praktik keberlanjutan, meskipun mungkin berdampak pada profitabilitas jangka pendek.
Contoh Pengaruh Kepemilikan Saham terhadap Keputusan Investasi Unilever di Masa Lalu
Pengambilalihan beberapa merek oleh Unilever di masa lalu, misalnya, bisa dianalisa sebagai contoh dampak kepemilikan saham. Proses akuisisi tersebut tentu saja melibatkan pertimbangan dari berbagai pemegang saham dan investor, yang mempertimbangkan potensi keuntungan dan risiko investasi. Keputusan untuk berinvestasi dalam merek tertentu mungkin dipengaruhi oleh tekanan dari investor yang mengharapkan pertumbuhan di segmen pasar tertentu. Hal ini juga dipengaruhi oleh analisis fundamental dan valuasi yang dilakukan oleh investor institusional.
Peran Dewan Direksi dan Manajemen Unilever

Unilever, raksasa barang konsumsi rumah tangga global, tak hanya berjaya karena produk-produknya yang ikonik, tetapi juga berkat tata kelola perusahaan yang solid. Sistem ini dibangun di atas pondasi kuat peran Dewan Direksi dan Manajemen yang saling melengkapi dan bertanggung jawab. Kinerja perusahaan yang mentereng, merupakan cerminan sinergi efektif antara pengawasan Dewan Direksi dan eksekusi Manajemen. Keberhasilan Unilever dalam mengelola bisnisnya yang kompleks di berbagai belahan dunia, menjadi bukti nyata pentingnya struktur pemerintahan perusahaan yang transparan dan akuntabel.
Struktur tata kelola perusahaan Unilever memastikan setiap keputusan strategis dan operasional dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan terukur. Hal ini menciptakan kepercayaan bagi para investor dan stakeholder, sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan perusahaan. Peran Dewan Direksi dan Manajemen dalam menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan keberlanjutan menjadi kunci keberhasilan Unilever hingga kini.
Anggota Kunci Dewan Direksi Unilever dan Latar Belakang Profesional Mereka
Dewan Direksi Unilever terdiri dari individu-individu berpengalaman dengan beragam latar belakang profesional yang mumpuni. Komposisi ini memastikan adanya perspektif yang luas dan komprehensif dalam pengambilan keputusan. Kompetensi yang beragam ini, mulai dari bidang keuangan, pemasaran, hingga strategi bisnis global, memberikan keunggulan kompetitif bagi Unilever dalam menghadapi tantangan pasar yang dinamis. Mereka bukan hanya sekadar pemegang jabatan, melainkan juga figur yang berpengaruh dalam membentuk arah strategis perusahaan.
Sebagai contoh, seorang direktur mungkin memiliki rekam jejak yang cemerlang dalam memimpin transformasi digital di perusahaan teknologi terkemuka, sementara yang lain mungkin ahli dalam strategi keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan. Keahlian-keahlian ini saling mendukung dan melengkapi untuk mencapai visi dan misi Unilever.
Tanggung Jawab Utama Dewan Direksi Unilever
Mengawasi kinerja manajemen, memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan etika bisnis, melindungi kepentingan pemegang saham, serta menetapkan strategi perusahaan jangka panjang. Mereka juga bertanggung jawab atas pengawasan atas pelaksanaan strategi tersebut dan memastikan akuntabilitas manajemen dalam pencapaian target yang telah ditetapkan.
Akuntabilitas Manajemen Unilever kepada Pemegang Saham
Manajemen Unilever bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan strategi bisnis yang telah ditetapkan oleh Dewan Direksi. Mereka diwajibkan untuk melaporkan kinerja perusahaan secara berkala kepada Dewan Direksi dan pemegang saham. Laporan tersebut meliputi kinerja keuangan, operasional, serta capaian target keberlanjutan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam hubungan antara manajemen dan pemegang saham. Sistem pelaporan yang terstruktur dan audit independen memastikan informasi yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan yang sehat antara perusahaan dan investor.
Struktur Tata Kelola Perusahaan Unilever yang Menjamin Akuntabilitas dan Transparansi
Struktur tata kelola Unilever didesain untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi. Sistem ini melibatkan berbagai mekanisme pengawasan, termasuk audit independen, komite audit, dan komite nominasi dan remunerasi. Keberadaan komite-komite ini memastikan pengambilan keputusan yang objektif dan bebas dari konflik kepentingan. Selain itu, Unilever juga menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan standar internasional.
Komitmen terhadap transparansi juga tercermin dalam publikasi laporan keberlanjutan yang rinci dan komprehensif. Laporan ini menunjukkan komitmen Unilever terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial, sekaligus menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap dampak bisnisnya terhadap masyarakat. Dengan demikian, struktur tata kelola perusahaan Unilever tidak hanya melindungi kepentingan pemegang saham, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi seluruh stakeholder.
Aksesibilitas Informasi Kepemilikan Unilever

Memahami struktur kepemilikan sebuah perusahaan raksasa seperti Unilever sangat penting, baik bagi investor yang ingin menanamkan modal, analis yang ingin menilai kinerja perusahaan, maupun publik yang ingin mengetahui transparansi pengelolaan bisnisnya. Informasi ini bukan sekadar angka-angka di atas kertas, melainkan cerminan dari kekuatan dan dinamika perusahaan, serta potensi pertumbuhannya di masa depan. Aksesibilitas informasi ini pun menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan dan menciptakan lingkungan investasi yang sehat.
Investor dan pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengakses informasi kepemilikan saham Unilever melalui berbagai jalur resmi dan terpercaya. Transparansi dalam hal ini menjadi kunci utama bagi Unilever sebagai perusahaan publik yang bertanggung jawab.
Sumber Informasi Kepemilikan Saham Unilever
Informasi terpercaya mengenai struktur kepemilikan Unilever dapat diperoleh dari beberapa sumber resmi. Hal ini memastikan data yang didapatkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga keputusan investasi atau analisis yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran. Ketepatan data ini menjadi krusial, karena dapat mempengaruhi berbagai keputusan bisnis dan investasi.
- Laporan Keuangan Tahunan Unilever: Laporan ini, yang umumnya tersedia di situs web resmi Unilever, memberikan gambaran komprehensif mengenai struktur kepemilikan, termasuk pemegang saham utama dan persentase kepemilikannya. Detail ini seringkali diuraikan secara rinci, memberikan pemahaman yang mendalam tentang distribusi kepemilikan.
- Laporan Bursa Saham: Sebagai perusahaan publik yang terdaftar di berbagai bursa saham dunia, informasi kepemilikan Unilever juga dapat diakses melalui situs web bursa saham tempat saham Unilever diperdagangkan. Data ini biasanya diperbarui secara berkala dan memberikan informasi real-time mengenai perubahan kepemilikan.
- Situs Web Investor Relations Unilever: Unilever biasanya memiliki bagian khusus di situs webnya yang didedikasikan untuk investor. Di sini, informasi mengenai kepemilikan saham, laporan keuangan, dan presentasi investor tersedia secara mudah dan terorganisir. Ini merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi investor untuk memantau kinerja perusahaan.
- Agensi Pemeringkat: Lembaga pemeringkat seperti Moody’s, S&P, dan Fitch juga seringkali menerbitkan laporan yang menganalisis kinerja dan profil risiko Unilever, termasuk struktur kepemilikan dan kualitas manajemennya. Informasi dari lembaga ini bisa menjadi bahan pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan investasi.
Daftar Situs Web dan Laporan Resmi
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, berikut beberapa situs web dan laporan resmi yang dapat diakses:
| Sumber Informasi | Jenis Informasi | Ketersediaan |
|---|---|---|
| Situs web resmi Unilever (unilever.com) | Laporan tahunan, laporan keuangan, presentasi investor, informasi kepemilikan | Tersedia untuk umum |
| Bursa Efek London (London Stock Exchange) | Data kepemilikan saham real-time, informasi perdagangan saham | Tersedia untuk umum |
| Bursa Efek New York (New York Stock Exchange) | Data kepemilikan saham real-time, informasi perdagangan saham | Tersedia untuk umum |
| Laporan dari agensi pemeringkat (Moody’s, S&P, Fitch) | Analisis kinerja dan risiko Unilever, termasuk struktur kepemilikan | Berbayar (umumnya), beberapa ringkasan mungkin tersedia secara gratis |
Pentingnya Transparansi Informasi Kepemilikan
Transparansi dalam pengungkapan informasi kepemilikan merupakan pilar utama dalam tata kelola perusahaan yang baik. Hal ini membangun kepercayaan di antara investor, stakeholder, dan publik. Kejelasan informasi kepemilikan memungkinkan investor untuk membuat keputusan yang terinformasi, mengurangi risiko, dan mendorong investasi yang berkelanjutan. Kurangnya transparansi dapat menimbulkan spekulasi, ketidakpercayaan, dan bahkan manipulasi pasar.
Penggunaan Informasi Kepemilikan untuk Analisis Kinerja
Informasi kepemilikan saham Unilever dapat digunakan untuk menganalisis kinerja perusahaan dari berbagai perspektif. Misalnya, identifikasi pemegang saham mayoritas dapat memberikan wawasan tentang strategi perusahaan dan arah bisnisnya. Perubahan signifikan dalam kepemilikan saham dapat mengindikasikan adanya perubahan strategi atau bahkan potensi akuisisi. Analisis kepemilikan juga dapat membantu dalam memahami dinamika kekuasaan di dalam perusahaan dan potensi konflik kepentingan.
Sebagai contoh, jika terdapat peningkatan kepemilikan saham oleh investor institusional besar, hal ini bisa mengindikasikan kepercayaan yang tinggi terhadap prospek pertumbuhan Unilever. Sebaliknya, penurunan kepemilikan saham oleh investor utama mungkin mengindikasikan adanya kekhawatiran terhadap kinerja atau prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan demikian, analisis kepemilikan saham, jika dikombinasikan dengan analisis fundamental lainnya, dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kinerja dan potensi Unilever.